ME-REMOTE MAHASISWA, BAGAIMANA ? (dalam perspektif aktivitas belajar dan pembelajaran)

Henry Praherdhiono
henry.praherdhiono.fip@um.ac.id
Teknologi Pendidikan, Universitas Negeri Malang

Abstrak. Aktivitas belajar dan pembelajaran online tidak selalu berbasis tugas. Mahasiswa perlu diberi kesempatan dengan memberikan komunitas, membangun sikap kolaboratif, jalan hidup dalam pengembangan diri dan kemampuan merefleksi lingkungan yang handal. Kemampuan ini merupakan aktivitas yang akan terus menerus mendorong individu dalam membenahi performansi diri mahasiswa

Kata kunci: belajar, pembelajaran, komunitas, kolaborasi, lingkungan belajar

Pendahuluan
Pembelajaran membutuhkan upaya pembenahan saat distance learning. Perubahan yang paling mendasar adalah cara kita membangun kepercayaan dan koneksi bahwa dosen masih mendampingi mahasiswa (Al Mamun et al., 2020). Mahasiswa kerap kecewa manakala dosen menjadi supervisor, atau bos yang selalu memberi perintah. Kegiatan dosen perlu diubah sebagai fasilitator pembelajaran profesional menjadi penekanan kegiatan. Saat ini kegiatan yang paling favorit adalah memberikan beberapa sesi pembelajaran tatap maya atau video conference setiap minggu untuk aktivitas pembelajaran (Casser, 2019). Bahkan pembelajaran tatap maya juga dilakukan dengan membagi kelompok kecil hingga dalam setiap minggu untuk ratusan peserta. Apakah aktivitas pembelajaran tersebut telah mampu menjajawab tantangan untuk menciptakan peluang pembelajaran berkualitas tinggi?

Aktivitas pembelajaran bukan hanya harus bergeser, tetapi harus melompat lebih jauh. Perubahan yang paling mendasar adalah cara pendekatan tipikal konteks menjadi bagaimana membangun pengalaman belajar yang bermakna untuk mahasiswa secara individu, walupun tidak meninggalkan sesi tatap maya seperti sebelumnya (Adefila, 2020). Basis tulisan ini adalah pengalaman beberapa waktu diuji coba dan telah berhasil membangun kemempuan mendasar mahasiswa.

Terhubung dengan komunikasi
Mahasiswa memiliki kemampuan jika mendapatkan apa yang disebut dengan acuan aktivitas pada saat perkuliahan secara online. Berdasarkan aktivitas pembelajaran selama beberapa bulan terakhir, pengalaman tentang pembelajaran berbasis kehidupan dengan pendekatan heutagogi dan pembelajaran untuk orang dewasa, ternyata semua bahan untuk merancang pembelajaran profesional jarak jauh yang efektif terletak pada acuan pekerjaan yang jelas.

Menyediakan Ruang Komunitas
Ruang komunitas merupakan ruang untuk membangun aspek sosial untuk mengkonstruksi aktivitas pembelajaran. Budaya belajar merupakan budaya individu yang bersanding dengan aktivitas sosial. Mahasiswa akan melakukan pembelajaran apabila berada di lingkungan yang aman dan mendukung. Seperti yang dicatat Hammond (2014) bahwa otak akan terus berupaya meminimalkan ancaman sosial dan memaksimalkan peluang untuk terhubung dengan orang lain dalam komunitas. Sehingga pada kegiatan pembelajaran yang perlu diperhatikan adalah pembelajaran profesional harus memberikan pengalaman meremot mahasiswa untuk dapat mengalihkan kegiatan individu ke komunitas pelajar dengan menciptakan budaya yang memungkinkan kolaborasi, dan dialog yang bersahabat. Seperti yang terjadi dalam percakapan WA pada gambar 2, mahasiswa dengan bahasa yang baik berupaya membangun konelsi dalam ruang pribadi.


Gambar 1. Mahasiswa berupaya mengkonstruksi pada ruang pribadi

Ruang pribadi selalu dimanfaatkan oleh mahasiswa karena bagi mahasiswa semua tugas dalam lingkungan virtual akan tampak seperti aktivitas yang menakutkan, namun dosen harus menggunakan komunitas digital dan pendekatan yang baik, maka pembelajaran yang profesional online dapat diarahkan pada keberanian menguatarakan dan membantunya dalam ruang komunitas seperti pada gambar 2. Mahasiswa merasa aman dalam mengkonstruksi dalam ruang-ruang komunitas bahkan pada saat mengoreksi kesalahan dosen.


Gambar 2 Keberanian mahasiswa dalam ruang komunitas

Pengajar era kekinian perlu memposisiskan diri sebagai fasilitator pada kolaborasi (Lazareva, 2017). Sehingga dosen harus mengatur dengan membuat referensi ke kelompok sebagai wujud dukungan terhadap komunitas mahasiswa dan dengan menetapkan tatacara membangun di awal setiap sesi yang mendorong lingkungan yang aman dan kolaboratif yang terlihat pada gambar 3. Dosen perlu melihat tentang aktivitas di awal setiap sesi sebagai awal untuk membantu meminimalkan ancaman sosial.

Mengkolaborasikan Pengalaman
Kolaborasi bukan merupakan aktivitas baru dalam pembelajaran. Aktivitas Kolaborasi merupakan bagian integral dari pembelajaran (Lazareva, 2017). Hampir seluruh pengajar hingga dosen tidak asing dalam diksi kolaborasi, namun yang menjadi bahan dalam tulisan ini adalah bagaiman merencanakan pengalaman pribadi dosen, untuk pengembangan profesional online menghadirkan beberapa tantangan pembelajaran online. Pengalaman dosen yang bisa dibagi adalah (misal) bagaimana memungkinkan peserta untuk melihat sekitar untuk mengunjungi tempat yang diminati seperti gambar 3, berkolaborasi untuk membuat produk yang setipe dengan dosen seperti gambar 4. Membangun kolaborasi secara online bukan masalah yang gampang, aktivitas kolaborasi membutuhkan berkali kali kegiatan karena kolaborasi akan lebih sulit dan butuh waktu lebih lama untuk dapat dijadikan pengalaman kolaboratif secara online. Namun sebenarnya, otak manusia adalah organ sosial, karena dengan berbagi pengalaman merupakan upaya alami untuk terhubung dengan orang lain.


Gambar 3 Berbagi pengalaman tempat belajar


Gambar 4 Mahasiswa menulis berdasarkan tulisan pengalaman dosen

Strategi pembelajaran klasik yaitu meminta mahasiswa mengerjakan tugas biasanya berhasil dalam sesi tatap muka atau aktifitas offline, manun dosen harus dapat memodifikasi dalam pembelajaran online.

Kebebasan individu untuk memilih kontennya
Setiap individu sangat senang apabila pekerjaanya dihargai atau mendapatkan pengakuan. Pelajar dewasa membawa beragam pengalaman masa lalu ke pembelajaran profesional, dan kebutuhan mereka saat ini sering berbeda dari satu individu ke individu lainnya (Praherdhiono et al., 2018b). Pembelajaran yang dipersonalisasi adalah kunci untuk memberikan pengakuan bagi mahasiswa dengan segala perbedaannya (Praherdhiono et al., 2018a). Dosen membangun pertumbuhan bagaimana memperoleh kemampuan profesional dan keterlibatan dengan cara menghargai setiap partisipasi mahasiswa apapun bentuknya seperti gambar 5. Dosen harus menyadari bahwa hasil bisa saja berbeda ketika pengalaman mahasiswa dalam mengakomodasi tingkat keahlian yang berbeda. Mahasiswa juga memililiki kebutuhan yang berbeda-beda yang dibawa individu untuk pengalaman belajar. Konstruksi ini lebih mungkin untuk memperdalam pengetahuan dan meningkatkan keterampilan peserta.


Gambar 5 Mahasiswa Bebas Berkenalan dan Bercerita

Kebaikan setiap mahasiswa dapat mempengaruhi lingkungan belajar. Desain pembelajaran yang dipersonalisasi, maka muncul aspek jalinan individu sepanjang sesi, atau setidaknya pada poin-poin tertentu di dalamnya. Elemen desain sederhana seperti mengumpulkan kebutuhan individu sebelum sesi atau mengizinkan peserta untuk memilih bercerita sendiri.  Selama aktivitas tertentu akan memungkinkan lebih banyak mahasiswa menjadi agen perubahan.

Membangun pembelajaran yang reflektif
Kemampuan berkomunisi terkait dengan kemampuan merefleksi secara kolaboratif (Benade, 2015). Refleksi dalam aktivitas belajar dapat melayani dua tujuan. Pertama, Mendorong pertumbuhan profesional, pemikiran inovatif, dan pemecahan masalah. Kedua, refleksi dapat memberi peserta waktu untuk berhenti sejenak untuk berpikir dan memberikan tulisan sebagai pemaknaan pemikirannya. Ini dapat membantu meminimalkan efek menatap layar yang terus menerus (video conference)


Gambar 6 Refleksi mahasiswa dalam ruang Histori Wiki

Pada gambar 6 Latihan reflektif dapat digunakan dengan sengaja sepanjang sesi sebagai waktu terstruktur untuk memproses informasi. Teknik yang digunakan adalah penggunakan teknologi wiki. Kuncinya adalah bagaimana aktivitas mahasiswa tetap berjalan disaat fasilitator diam. Refleksi akan membangun mahasiswa memiliki waktu bebas untuk memproses dan merenung.

 

Penutup

Teori dari belajar dan pembelajaran adalah bagaimana performansi mehasiswa dapat berubah. Dosen harus dengan sengaja merancang pengembangan aktivitas belajar dan pembelajaran online dalam upaya meningkatkan 1) kenyamanan dalam berkomunitas, berkolaborasi dengan aman, kebebasan individu dalam memilih jalannya sediri, dan kemampuan merefleksikan lingkungan belajar akan mengarah pada pembelajaran yang lebih dalam dan pengalaman yang lebih bermakna bagi mahasiswa. Dosen harus terus menerus mencari jalan untuk membantu mahasiswa dengan membuat belajar dan pembelajaran online yang interaktif dan menarik.

 

Referensi

Adefila, A., 2020. Students’ engagement and learning experiences using virtual patient simulation in a computer supported collaborative learning environment. Innov. Educ. Teach. Int. 57, 50–61. https://doi.org/10.1080/14703297.2018.1541188

Al Mamun, M.A., Lawrie, G., Wright, T., 2020. Instructional design of scaffolded online learning modules for self-directed and inquiry-based learning environments. Comput. Educ. 144, 103695.

Benade, L., 2015. Teachers’ critical reflective practice in the context of twenty-first century learning. Open Rev. Educ. Res.

Casser, V., 2019. Depth prediction without the sensors: Leveraging structure for unsupervised learning from monocular videos. 33rd AAAI Conf. Artif. Intell. AAAI 2019 31st Innov. Appl. Artif. Intell. Conf. IAAI 2019 9th AAAI Symp. Educ. Adv. Artif. Intell. EAAI 2019 8001–8008.

Hammond, Z., 2014. Culturally responsive teaching and the brain: Promoting authentic engagement and rigor among culturally and linguistically diverse students. Corwin Press.

Lazareva, A., 2017. Facilitating collaboration: Potential synergies between collaboration engineering and computer-supported collaborative learning. Int. J. E-Collab. 13, 22–38. https://doi.org/10.4018/IJeC.2017070102

Praherdhiono, H., Abidin, Z., Adi, E.P., Prihatmoko, Y., Soepriyanto, Y., 2018a. Learning Design for Strengthening of Learner Self-Concept, in: International Conference on Education and Technology (ICET 2018). Atlantis Press.

Praherdhiono, H., Adi, E.P., Devita, R.N., 2018b. Understanding of Digital Learning Sources with the Heutagogy Approach using the K-Means and Naive Bayes Methods, in: 2018 4th International Conference on Education and Technology (ICET). IEEE, pp. 23–27.

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *