DAMPAK KEBOHONGAN (ANAK 13 TAHUN) SEBAGAI KOMODITAS ISU SARA PADA MEDIA SOSIAL (PARIS, PERANCIS)

Jika seandainya peristiwa dunia bagaikan memutar film, maka saya akan putar ulang dan saya potong adegan kebencian menjadi adegan kerinduan. Kebohongan yang sangat remeh bagi anak usia 13 tahun mengatakan bahwa gurunya mempertontonkan kartun rasulullah Muhammad saw yang dikuatkan media sosial ternyata memiliki dampak yang tidak pernah dipikirkan oleh anak tersebut (Media, 2021). Sebagai pengajar saya mencoba berbesar hati menerima kebohongan anak yang kelewat cerdas ini sebagai evaluasi keputusan mandiri. Keputusan mandiri seorang anak usia 13 tahun merupakan keputusan yang naluriah seorang anak. Anak akan merasa senang kalau orang tuanya menyajung dia. Logikanya telah dapat diterima dengan akal sehat, manakala dia dikeluarkan dari kelas karena perilaku dia yang membolos dinilai sebagai citra buruk, maka dengan kecerdasannya dia berusaha mengalihkan ke hal yang fundamental dan provokatif. Celakanya kecerdasan tersebut mengarah pada keputusan menaruh isu SARA (Suku, Ras dan Agama) yang fundamental bagi umat muslim. Konsep Tabayyun dalam kaidah interaksi sosial merupakan diksi tertinggi bagi orang yang memiliki intelektual. Tabbayun seharusnya hadir pada orang tua manapun. Namun sayang peristiwa di dunia bukanlah acara pemutaran film yang dapat diulang sampai batas masa tayang selesai.

Heutagogi merupakan mitigasi penggunaan media sosial dibawah umur. Heutagogi mengkonstruksi dan membimbing pebelajar untuk mampu memutuskan sendiri (Praherdhiono et al., 2018), Pernyataan ini memang agak jauh dari permasalahan kebohongan anak, namun masih memiliki benang merahnya. Anak suka mengadu, berbohong dll sebenarnya merupakan perwujudan dukungan lingkungan belajar. Karena dalam teori kejahatan hampir semuanya memiliki motif. Bukan hanya kejahatan, motif-pun juga dikenal dalam dunia ekonomi. Tentunya motif menjadi diksi yang umum. Motif merupakan merupakan kausalitas dalam sebuah lingkungan. Keputusan anak usia 13 tahun tentunya merupakan keputusan anak-anak dibawah umur (jika acuan dewasa adalah 17 tahun). Maka seharusnya, informasi yang muncul dari anak usia 13 perlu menjadi pertimbangan bagi orang tua atau siapapun. Kalau Tabayyun telah menjadi budaya orang tua, sebenarnya permasalahan ini menjadi sederhana dan selesai. Pada kasus ini, Orang Tua dengan mudahnya mengadu pada Media Sosial tanpa tabayyun merupakan keputusan yang responsif terhadap lingkungan namun tidak bijaksana. Maka yang sangat bermasalah dalam hal ini adalah kemampuan memutuskan tindakan.

Kebohongan dalam perspektif media sosial sebenarnya bukan berita baru. Kebohongan dapat terjadi dimanapun. Kebohongan seperti sebuah pisau, siapa yang memegang dan dalam konteks apa. Kebohongan dalam media sosial yang fundamental seperti menyangkut SARA hampir dipastikan memiliki dampak mengerikan. Namun banyak orang baik sadar maupun tidak sadar sering memutuskan isu SARA sebagai konten media sosial. Maka yang perlu kita benahi adalah kemampuan seseorang dalam melakukan keputusan baik yang bersifat mandiri dan kelompok. Pelajaran paling mahal sebenarnya adalah hilangnya nyawa. Apakah guru yang dipenggal merupakan korban yang sia-sia? Tentu jawabnya bukan ya dan tidak ….. jawabnya adalah sungguh sebuah kengerian luar biasa, Jika hanya karena kebohongan anak usia 13 tahun, guru dipenggal oleh orang yang hanya terhubung oleh konten SARA di media sosial. Tapi ini perlu tabayyun …. Sesederhanakah itukah motif perpecahan kebersamaan umat manusia, mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang ….

Referensi

Media, K.C., 2021. Ketika Kebohongan Siswi 13 Tahun Berujung Pemenggalan Samuel Paty, Terungkap Suka Bolos [WWW Document]. KOMPAS.com. URL https://www.kompas.com/global/read/2021/03/11/064345570/ketika-kebohongan-siswi-13-tahun-berujung-pemenggalan-samuel-paty (accessed 3.11.21).

Praherdhiono, H., Adi, E.P., Prihatmoko, Y., 2018. Strengthening Performance for Teachers in Early Childhood Education with Heutagogy on the Utilization of Digital Learning Media and Sources, in: 1st International Conference on Early Childhood and Primary Education (ECPE 2018). Atlantis Press.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *