Kegiatan Pelatihan 8: The Backward Designer (UbD)

·

·

The Backward Designer (UbD)

The Backward Designer

Understanding by Design (Wiggins & McTighe)

Ikuti urutan langkah ini. Anda tidak bisa melompat ke perencanaan materi sebelum menetapkan tujuan dan bukti penilaian.

1

Identifikasi Hasil (Desired Results)

Apa kemampuan permanen yang harus dimiliki mahasiswa setelah lulus mata kuliah ini? (CPL/Outcome)

2

Tentukan Bukti (Assessment Evidence)

Apa bukti nyata/forensik yang dapat diterima untuk menyatakan mereka berhasil mencapai tujuan di atas?

3

Rencanakan Pembelajaran (Learning Plan)

Baru sekarang Anda boleh bicara materi/buku. Aktivitas apa yang membekali mereka untuk bisa lulus Asesmen di atas?

1. Backward Design

Backward Design menantang kebiasaan lama dosen yang sering disebut sebagai “Textbook-Driven” atau “Activity-Oriented” design.

  • Textbook-Driven: Dosen merancang kuliah berdasarkan bab-bab buku yang tersedia, bukan berdasarkan apa yang dibutuhkan mahasiswa.
  • Activity-Oriented: Dosen membuat proyek seru hanya karena itu “keren”, tanpa memikirkan apakah proyek itu relevan dengan tujuan akhir.

Filosofi Backward Design adalah Teleologis (berorientasi pada tujuan). Kita tidak memulai perjalanan tanpa peta. Kita tentukan dulu destinasinya (Hasil), lalu tentukan bagaimana kita tahu kita sudah sampai (Bukti), baru kita pilih kendaraannya (Materi). Ini memastikan bahwa tidak ada satu menit pun waktu kuliah yang terbuang untuk materi yang tidak relevan dengan tujuan akhir.

2. Backward Design penting?

Backward Design dibangun berdasarkan tiga tahap Understanding by Design (UbD):

  1. Identify Desired Results (Identifikasi Hasil):
    Menentukan Enduring Understanding (Pemahaman Melekat). Apa yang harus tersisa di kepala mahasiswa 5 tahun setelah mereka lulus? Ini menjadi CPL/ILO.
  2. Determine Acceptable Evidence (Tentukan Bukti):
    Ini adalah langkah paling kritis yang sering dilompati. Sebelum memikirkan cara mengajar, kita harus berpikir seperti asesor/detektif: “Bukti forensik apa yang menunjukkan mahasiswa sudah paham?”. Bukti ini bisa berupa Proyek, Ujian, atau Observasi.
  3. Plan Learning Experiences (Rencanakan Pembelajaran):
    Baru di tahap akhir ini kita memilih metode (Ceramah/Diskusi/PjBL) dan materi ajar yang paling efektif untuk mempersiapkan mahasiswa menghasilkan bukti di tahap 2.

3. Metode dan Tutorial Penggunaan

Metode Kerja: The Step-Lock (Kunci Bertahap)

Aplikasi ini menggunakan mekanisme psikologis forcing function. Dosen secara fisik tidak bisa mengisi kolom materi (Langkah 3) sebelum menyelesaikan Langkah 1 dan 2. Ini untuk mematahkan kebiasaan “langsung loncat ke materi”.

Tutorial Langkah demi Langkah

Langkah 1: Tentukan Destinasi (Stage 1)

  • Pertanyaan: “Apa yang mahasiswa harus BISA LAKUKAN setelah bab ini selesai?”
  • Input: Jangan tulis “Mahasiswa belajar Bab 1”. Tulislah “Mahasiswa mampu mengaudit laporan keuangan.”

Langkah 2: Tentukan Bukti Forensik (Stage 2)

  • Pertanyaan: “Apa buktinya mereka bisa audit?”
  • Input: Jangan tulis “Ujian Pilihan Ganda”. Tulislah “Laporan Audit simulasi terhadap PT. X yang mengandung temuan fraud.”

Langkah 3: Pilih Kendaraan (Stage 3)

  • Pertanyaan: “Apa yang harus saya ajarkan agar mereka bisa bikin Laporan Audit itu?”
  • Input: “Workshop deteksi fraud, Latihan menulis laporan, Studi kasus Enron.” (Perhatikan: Materinya jadi sangat spesifik dan relevan, tidak melebar ke mana-mana).

Langkah 4: Validasi AI

  • Klik Generate Backward Design RPS.

AI akan mengecek apakah urutan logika Anda sudah “nyambung” atau masih ada lompatan logika (logic leap).



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *