The Survivor Persona 2030
Simulator Profil Lulusan Tangguh & Generator Ultimate Outcome
Tahap 1: Imajinasi Masa Depan
Profil Lulusan Tangguh
The Future Expert
Medan Pertempuran
Krisis Global
Senjata Andalan (Ultimate Skill)
Critical Thinking
ULTIMATE OUTCOME (HUMAN LANGUAGE):
“…”
Ingin mengubah ini menjadi Bahasa Kurikulum Formal (CPL)?
Minta AI untuk menerjemahkan bahasa “manusiawi” di atas menjadi formulasi OBE yang baku.
1. Apa itu The Survivor Persona 2030
The Survivor Persona dirancang sebagai antitesis terhadap “banalitas administratif” yang sering menjerat dunia pendidikan tinggi. Seringkali, perumusan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) terjebak dalam formalitas linguistik yang kaku, sehingga kehilangan esensi humanisnya. Alat ini menawarkan pendekatan Teleologi Eksistensial—sebuah pandangan bahwa tujuan akhir pendidikan bukanlah sekadar kepatuhan terhadap standar akreditasi saat ini, melainkan persiapan radikal bagi kelangsungan hidup (survival) peserta didik di masa depan yang penuh gejolak.
Dengan mengajak dosen melakukan lompatan imajinatif ke tahun 2030, kita mengaktifkan “empati futuristik”. Fokus bergeser dari ego pengajar (“Apa yang ingin saya ajarkan?”) menjadi kebutuhan mendesak pembelajar (“Apa senjata yang mereka butuhkan agar tidak ‘mati’ secara profesional?”). Dalam kerangka ini, kurikulum bukan lagi sekadar daftar materi, melainkan seperangkat baju zirah (survival kit) yang membekali manusia untuk menaklukkan ketidakpastian, menegaskan bahwa tugas tertinggi pendidik adalah memastikan muridnya mampu melampaui gurunya dalam menghadapi zaman yang belum pernah dilihat sang guru itu sendiri.
2. The Survivor Persona 2030 penting?
The Survivor Persona 2030 mengoperasionalkan prinsip Understanding by Design (UbD) atau Backward Design dari Wiggins & McTighe dalam bentuk yang paling ekstrem. Kita tidak memulai dari “Bab 1 Mata Kuliah”, melainkan dari “Ultimate Outcome” di masa depan (2030), baru kemudian menarik benang merah mundur (regressive inference) ke kurikulum saat ini. Hal ini memastikan keselarasan (alignment) antara aktivitas kelas hari ini dengan realitas ekosistem masa depan.
Lebih jauh, alat ini mengintegrasikan Future Studies dan kerangka kerja OECD Learning Compass 2030. Dalam era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) atau BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible), kompetensi teknis memiliki waktu paruh yang pendek. Oleh karena itu, generator ini memprioritaskan identifikasi Transformative Competencies—kemampuan menciptakan nilai baru, mendamaikan ketegangan dilematis, dan mengambil tanggung jawab. AI dalam alat ini berfungsi sebagai penerjemah (translator) yang menjembatani bahasa imajinatif “dunia nyata” menjadi taksonomi pendidikan formal (Sikap, Pengetahuan, Keterampilan) yang terukur dan baku dalam standar OBE (Outcome-Based Education).
3. Metode dan Tutorial Penggunaan
Metode Kerja: “Right Brain to Left Brain”
Alat ini memisahkan proses kreatif dan administratif agar dosen tidak buntu (writer’s block):
- Fase Imajinasi (Otak Kanan): Dosen merumuskan visi lulusan menggunakan bahasa naratif yang emosional dan kontekstual, berfokus pada daya tahan hidup (resiliensi).
- Fase Formalisasi (Otak Kiri/AI): Menggunakan kecerdasan buatan untuk menerjemahkan visi naratif tersebut menjadi bahasa teknis kurikulum (CPL) yang memenuhi standar SN-DIKTI.
Tutorial Penggunaan
Langkah 1: Kondisi Awal (Setting the Stage)
- Ajak peserta melupakan sejenak mata kuliah yang mereka ampu.
- Buka aplikasi The Survivor Persona 2030.
- Tanamkan mindset: “Kita sedang merancang karakter utama dalam film sci-fi tahun 2030.”
Langkah 2: Input Imajinasi (Visualisasi)
Isi formulir dengan data yang spesifik, hindari generalisasi:
- Profesi/Peran: Jangan tulis “Manajer”, tapi tulis “Manajer Krisis Iklim” atau “Arsitek Etika AI”.
- The Monster (Ancaman): Pilih skenario krisis yang relevan. Apa yang bisa membunuh karir mereka? (Misal: Deepfake atau Otomatisasi Total).
- The Weapon (Senjata): Ini adalah inti CPL. Tuliskan kemampuan manusia yang tidak bisa dilakukan algoritma.
- Hindari: “Mampu menggunakan Microsoft Office.”
- Gunakan: “Kemampuan negosiasi empatik di tengah konflik data yang bias.”
Langkah 3: Eksekusi & Refleksi
- Klik tombol “Visualisasikan Survivor”.
- Baca kalimat Ultimate Outcome yang muncul. Tanyakan: “Apakah kalimat ini membuat Anda bangga jika alumni Anda menjadi seperti itu?”
Langkah 4: Konversi ke Bahasa Akademik
- Klik tombol “Salin Prompt & Buka Gemini”.
- Tempel (Paste) teks tersebut ke dalam kolom chat AI (Gemini).
- AI akan menyajikan Tabel CPL (Sikap, Pengetahuan, Keterampilan) yang baku berdasarkan imajinasi liar tadi.
Langkah 5: Validasi
Bandingkan hasil CPL dari AI dengan dokumen CPL lama di Prodi. Biasanya, hasil dari metode ini lebih tajam, relevan, dan “membumi” daripada CPL hasil copy-paste standar.

Leave a Reply