Kita ambil contoh topik konkret yang relevan dengan keseharian siswa di sekolah full-day berbasis Islam: “Adab Makan dan Pengelolaan Sisa Makanan (Zero Waste)”. Topik ini sangat cocok karena menyentuh aspek ritual harian (makan siang di sekolah), nilai agama (larangan mubazir), dan tanggung jawab lingkungan (sains/sosial).
Studi Kasus: Program Makan Siang di Sekolah Dasar Islam
Tema: “Makananku, Tanggung Jawabku”
1. Pendekatan Desain: Computational Thinking (CT)
Lensa: Membangun sistem yang efisien dan logis bagi siswa untuk mengelola kegiatan makan.
- Fokus Guru: Bagaimana agar siswa dapat menjalankan proses makan siang dari antre hingga membereskan alat makan secara tertib, cepat, dan tanpa sisa yang tercampur?
- Aktivitas Siswa (4 Pondasi CT):
- Dekomposisi: Siswa memecah proses “selesai makan” menjadi langkah kecil: (1) Kumpulkan sisa nasi, (2) Pisahkan sendok/garpu, (3) Tumpukan piring, (4) Buang tisu ke tong berbeda.
- Pengenalan Pola: Siswa mengamati: “Ternyata antrian pembuangan sisa makanan selalu macet di tong sampah organik karena lubangnya terlalu kecil.”
- Abstraksi: Fokus hanya pada alur pergerakan siswa dan jenis sampah. Abaikan dulu siapa yang makan apa.
- Algoritma: Siswa bersama guru membuat SOP (Standard Operating Procedure) dalam bentuk poster infografis di kantin: “Jika piring kosong -> langsung tumpuk. Jika ada sisa -> langkah 1, langkah 2, langkah 3.”
- Output Pembelajaran: Siswa terampil, tertib, dan sistematis. Kantin menjadi bersih dengan efisien.
2. Pendekatan Desain: Deep Learning (DL) Pedagogi
Lensa: Membangun karakter Islami, empati, dan pemahaman mendalam tentang makna makanan.
- Fokus Guru: Bagaimana agar siswa memahami mengapa membuang makanan itu buruk secara agama dan sosial, sehingga lahir kesadaran internal (bukan sekadar takut didenda/ditegur).
- Aktivitas Siswa (Kompetensi 6C + Nilai Islam):
- Character (Akhlak): Diskusi reflektif tentang ayat/hadis larangan israf (berlebih-lebihan) dan mubazir. Siswa merefleksikan, “Apakah aku tadi mengambil lebih dari yang kubutuhkan?”
- Critical Thinking: Guru mengajukan pertanyaan provokatif: “Jika setiap siswa SD Sabilillah menyisakan 1 sendok nasi setiap hari, berapa kilogram beras yang kita buang dalam setahun? Berapa orang miskin yang sebenarnya bisa kita beri makan dari situ?”
- Citizenship (Kewarganegaraan Global): Siswa melihat video dokumenter tentang kelaparan di belahan dunia lain atau kerja keras petani padi, membangun empati.
- Collaboration: Siswa berkelompok membuat kampanye “Ambil Secukupnya, Habiskan Semuanya” untuk adik kelas.
- Output Pembelajaran: Perubahan mindset dan karakter. Siswa menghabiskan makanan bukan karena aturan SOP, tapi karena kesadaran empati dan takut akan hisab Allah SWT.
Ringkasan Perbedaan dalam Konteks SD Sabilillah
| Fitur Desain | Lensa CT (Computational Thinking) | Lensa DL (Deep Learning Pedagogi) |
| Kata Kunci di RPP | Prosedur, Urutan, Logika, Efisiensi, Pola. | Makna, Refleksi, Empati, Nilai Islam (Value), Dampak. |
| Pertanyaan Guru | “Bagaimana cara paling cepat membereskan mejamu?” | “Apa yang kamu rasakan saat melihat makanan terbuang?” |
| Indikator Sukses | Siswa melakukan rutinitas dengan benar dan mandiri tanpa perlu terus diinstruksikan. | Siswa menunjukkan perubahan sikap (misal: sukarela mengingatkan teman yang menyisakan makanan). |
| Relevansi Kurikulum Sabilillah | Mendukung pilar Kecendekiaan (kemampuan berpikir sistematis/sains). | Mendukung pilar Keislaman & Kebangsaan (pembentukan karakter/adab). |
Dalam praktiknya di Sekolah Dasar Islam yang holistik, idealnya Bapak/Ibu guru di sana menggunakan kedua desain ini secara bergantian atau berurutan. CT untuk membangun kebiasaan/habituasi yang baik, dan DL untuk menanamkan pemahaman nilai agar kebiasaan itu langgeng.

Leave a Reply