Dick, W., Carey, L., & Carey, J. O. (2015). The systematic design of instruction (8th ed.). Pearson
Langkah-Langkah Pengembangan Desain Pembelajaran
1. Mengidentifikasi Tujuan Pembelajaran (Identify Instructional Goal)
Langkah awal adalah menentukan apa yang diharapkan dapat dilakukan oleh pebelajar setelah menyelesaikan pembelajaran . Tujuan ini tidak muncul begitu saja, melainkan berasal dari analisis kebutuhan (needs assessment), analisis kinerja, atau analisis tugas (job analysis) untuk memastikan relevansinya . Penetapan tujuan yang jelas dan terukur menjadi fondasi bagi seluruh proses desain selanjutnya. Tanpa tujuan yang akurat, sebagus apapun materi yang dikembangkan berisiko tidak menjawab permasalahan sebenarnya. Langkah ini memastikan bahwa pembelajaran yang dirancang benar-benar dibutuhkan dan fokus pada pencapaian hasil yang spesifik dan bermakna.
2. Melakukan Analisis Instruksional (Conduct Instructional Analysis)
Setelah tujuan utama ditetapkan, langkah ini membedah tujuan tersebut menjadi langkah-langkah prosedural atau keterampilan bawahan (subordinate skills) yang harus dikuasai secara berurutan. Proses ini sering divisualisasikan dalam bentuk diagram alur atau hierarki. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi semua komponen pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mencapai tujuan akhir. Selain itu, pada tahap ini juga diidentifikasi keterampilan prasyarat (entry skills), yaitu kemampuan yang harus sudah dimiliki pebelajar sebelum memulai pembelajaran. Analisis ini memastikan tidak ada langkah penting yang terlewatkan dan pembelajaran disusun secara logis.
3. Menganalisis pebelajar dan Konteks (Analyze Learners and Contexts)
Langkah ini berjalan paralel dengan analisis instruksional, berfokus pada siapa audiens pembelajaran. Analisis ini mengkaji karakteristik pebelajar seperti pengetahuan awal, tingkat kemampuan, motivasi, dan latar belakang mereka 6. Selain itu, dilakukan juga analisis terhadap dua konteks penting: konteks pembelajaran (di mana instruksi akan diberikan, misalnya kelas atau online) dan konteks kinerja (di mana keterampilan akan diterapkan, misalnya di tempat kerja). Informasi ini sangat krusial untuk mengadaptasi strategi, contoh, dan media pembelajaran agar sesuai, relevan, dan efektif bagi target audiens.
4. Menulis Tujuan Kinerja (Write Performance Objectives)
Berdasarkan hasil analisis instruksional, setiap keterampilan yang teridentifikasi diterjemahkan menjadi pernyataan yang spesifik dan terukur. Tujuan kinerja (atau tujuan pembelajaran khusus) ini terdiri dari tiga komponen utama: perilaku (apa yang dapat dilakukan pebelajar), kondisi (dalam situasi atau dengan alat apa perilaku itu ditunjukkan), dan kriteria (standar keberhasilan atau tingkat penguasaan). Tujuan yang dirumuskan dengan baik berfungsi sebagai panduan yang jelas untuk mengembangkan instrumen penilaian dan strategi pembelajaran, memastikan semua komponen desain saling terkait dan konsisten.
5. Mengembangkan Instrumen Penilaian (Develop Assessment Instruments)
Pada tahap ini, dikembangkan alat ukur atau tes yang secara langsung mengukur pencapaian setiap tujuan kinerja yang telah ditulis. Instrumen ini disebut penilaian acuan kriteria (criterion-referenced assessment) karena mengukur penguasaan pebelajar terhadap kriteria yang telah ditetapkan, bukan membandingkannya dengan peserta lain. Jenis penilaian dapat mencakup tes awal (pretest), tes formatif selama pembelajaran (practice test), dan tes akhir (posttest). Bentuknya bisa beragam, mulai dari tes objektif hingga penilaian kinerja, produk, atau portofolio, yang semuanya harus selaras dengan tujuan.
6. Mengembangkan Strategi Pembelajaran (Develop Instructional Strategy)
Strategi pembelajaran adalah rencana keseluruhan tentang bagaimana menyajikan materi dan aktivitas untuk membantu pebelajar mencapai tujuan. Ini mencakup lima komponen utama: kegiatan pra-pembelajaran (motivasi, penyampaian tujuan), penyajian konten (materi, contoh), partisipasi pebelajar (latihan, praktik), penilaian (untuk umpan balik), dan kegiatan tindak lanjut (untuk retensi dan transfer). Strategi ini dirancang berdasarkan teori belajar, karakteristik pebelajar, jenis materi, dan media yang akan digunakan untuk menciptakan pengalaman belajar yang menarik, efektif, dan efisien.
7. Mengembangkan dan Memilih Materi Pembelajaran (Develop and Select Instructional Materials)
Berdasarkan strategi yang telah dirancang, langkah selanjutnya adalah memproduksi materi pembelajaran atau memilih materi yang sudah ada. Materi ini bisa berupa buku panduan, modul, presentasi, video, simulasi, atau konten untuk platform e-learning. Jika mengembangkan materi baru, desainer menerjemahkan strategi menjadi konten nyata, panduan belajar, latihan, dan media. Jika memilih materi yang sudah ada, desainer harus mengevaluasinya secara cermat untuk memastikan kesesuaiannya dengan tujuan, pebelajar, dan strategi pembelajaran yang telah ditetapkan, serta melakukan adaptasi jika diperlukan.
8. Merancang dan Melakukan Evaluasi Formatif (Design and Conduct Formative Evaluation)
Sebelum diimplementasikan secara luas, draf materi pembelajaran diuji coba untuk mengumpulkan data guna perbaikan. Proses ini disebut evaluasi formatif. Biasanya dilakukan dalam tiga tahap: evaluasi satu-lawan-satu (dengan satu pebelajar), evaluasi kelompok kecil (8-20 pebelajar), dan uji coba lapangan di lingkungan nyata. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi kelemahan dalam materi, seperti ketidakjelasan, kesalahan, atau bagian yang membosankan. Data yang terkumpul dari performa dan tanggapan pebelajar sangat berharga untuk melakukan revisi dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
9. Merevisi Pembelajaran (Revise Instruction)
Ini adalah langkah tindak lanjut dari evaluasi formatif. Data yang terkumpul dianalisis secara sistematis untuk mengidentifikasi area masalah. Revisi tidak hanya terbatas pada materi pembelajaran, tetapi bisa juga mencakup semua komponen sebelumnya, seperti analisis instruksional, tujuan kinerja, instrumen penilaian, hingga strategi pembelajaran. Proses ini bersifat iteratif; setelah revisi dilakukan, materi dapat diuji coba kembali untuk memastikan bahwa perbaikan yang dilakukan efektif. Langkah ini sangat penting untuk memastikan produk akhir pembelajaran berkualitas tinggi dan benar-benar berfungsi sesuai harapan.
10. Merancang dan Melakukan Evaluasi Sumatif (Design and Conduct Summative Evaluation)
Meskipun seringkali dilakukan oleh pihak eksternal, evaluasi sumatif adalah penilaian akhir terhadap efektivitas program pembelajaran yang telah selesai direvisi dan diimplementasikan. Tujuannya bukan untuk memperbaiki, melainkan untuk menentukan nilai atau “worth” dari pembelajaran tersebut. Evaluasi ini menjawab pertanyaan seperti, “Apakah program ini berhasil mencapai tujuannya?” atau “Apakah investasi pada program ini memberikan hasil yang diharapkan?”. Hasil evaluasi sumatif digunakan oleh para pengambil keputusan untuk melanjutkan, menghentikan, atau mengadopsi program pembelajaran tersebut secara lebih luas.

Leave a Reply