Kombinasi Computational Thinking (CT), Deep Learning (DL) Pedagogi, dan Generative AI (GenAI) saat ini menjadi topik krusial dalam pendidikan karena ketiganya membentuk “Trifecta Ketahanan Pendidikan” di era digital1. Membahas ketiganya secara bersamaan bukan sekadar mengikuti tren, melainkan respons wajib terhadap perubahan fundamental cara manusia hidup, bekerja, dan berpikir di abad ke-21, seiring dengan evolusi dari pemrograman menuju prompting dan kebutuhan kerangka pembelajaran yang berpusat pada manusia (Hsu, 2025; Kong & Yang, 2024). Berikut adalah alasan mengapa ketiganya sangat penting untuk dibahas:
1. Menjawab Tuntutan Zaman (Relevansi Industri & Kehidupan)
Transisi menuju era pendidikan cerdas dan konvergensi teknologi canggih menegaskan bahwa dunia pasca-Industri 4.0 tidak lagi membutuhkan tenaga kerja yang hanya piawai melakukan tugas rutin karena sudah bisa diotomatisasi oleh AI (Adel, 2024).
- Dalam konteks ini, CT diperlukan agar lulusan memiliki kemampuan pemecahan masalah yang sistematis dan logis, sebuah keterampilan yang belum bisa digantikan sepenuhnya oleh mesin.
- Di sisi lain, DL-Pedagogi diperlukan untuk mencetak manusia dengan keterampilan tingkat tinggi (6C: Critical thinking, Creativity, Collaboration, dll.) yang tidak bisa dicapai hanya dengan hafalan.
- Karena GenAI adalah realitas baru di tempat kerja, pendidikan harus membahasnya agar siswa siap bekerja bersama AI, bukan digantikan olehnya.
2. Redefinisi “Belajar” di Era Informasi
Kehadiran GenAI dan ruang kelas cerdas memaksa kita mendefinisikan ulang apa artinya “pintar” di sekolah (Yang et al., 2025).
- Jika “pintar” hanya berarti bisa menjawab soal ujian standar, maka GenAI sudah lebih pintar dari kebanyakan siswa.
- Oleh karena itu, diskusi tentang DL-Pedagogi menjadi mendesak untuk bergeser dari Surface Learning (yang mudah ditiru AI) ke pembelajaran bermakna yang menuntut refleksi manusiawi, empati, dan kearifan nilai.
3. Menghindari “Kecerdasan Semu” (Artificial Stupidity)
Tanpa fondasi berpikir kritis yang kuat, penggunaan GenAI di sekolah bisa berbahaya (Lee & Low, 2024).
- Siswa berisiko menjadi tergantung pada jawaban instan AI tanpa memahami prosesnya.
- Di sinilah CT menjadi “imunisasi” kognitif: dengan CT, siswa paham bahwa AI hanyalah algoritma yang bisa salah (halusinasi), sehingga mereka perlu memverifikasi output-nya dengan logika yang ketat.
4. Transformasi Peran Guru dan Siswa
Ketiga topik ini mengubah lanskap kelas secara drastis.
- Guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan karena keberadaan GenAI, melainkan menjadi fasilitator yang memicu Deep Learning.
- Siswa bukan lagi konsumen informasi pasif, melainkan desainer solusi aktif yang menggunakan CT untuk memerintah teknologi.
Kesimpulan
Membahas CT, DL-Pedagogi, dan GenAI secara terintegrasi adalah kunci untuk memastikan pendidikan kita tidak usang. CT adalah cara kita mengendalikan alat baru 14, GenAI adalah alat baru yang sangat kuat tersebut, dan DL-Pedagogi adalah tujuan agar penggunaan alat tersebut tetap memanusiakan manusia.
Referensi
Adel, A. (2024). The convergence of intelligent tutoring, robotics, and IoT in smart education for the transition from industry 4.0 to 5.0. Smart Cities, 7(1), 325-369.
Hsu, H. P. (2025). From programming to prompting: Developing computational thinking through large language model-based generative artificial intelligence. TechTrends, 1-22.
Kong, S. C., & Yang, Y. (2024). A human-centered learning and teaching framework using generative artificial intelligence for self-regulated learning development through domain knowledge learning in K–12 settings. IEEE Transactions on Learning Technologies, 17, 1562-1573.
Lee, C. C., & Low, M. Y. H. (2024). Using genAI in education: The case for critical thinking. Frontiers in Artificial Intelligence, 7, 1452131.Yang, C., Xing, G., Ma, W., & Tai, J. (2025). The Power of Smart Classrooms and Enlightened Minds-A Review of Generative Artificial Intelligence in Education. J. COMBIN. MATH. COMBIN. COMPUT, 127, 8093-8103.

Leave a Reply