TEKNOLOGI PADA MEDIA PEMBELAJARAN

HENRY PRAHERDHIONO
henry.praherdhiono.fip@um.ac.id
Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang

ABSTRAK Media pembelajaran membantu pebelajar dalam mengkonstruksi keilmuan di berbagai lembaga penyelenggara Pendidikan dunia. Perkembangan teknologi membantu media pembelajaran semakin mudah digunakan. Berbagai teknologi media pembelajaran juga telah menjadi trend dan bahkan membantu sumber-sumber belajar melawati batas-batas wilayah, negara hingga benua.
Kata Kunci: Media Pembejaran, Teknologi

PENDAHULUAN
Pengembangan Media Pembelajaran selalu bersinggungan dengan budaya prilaku belajar global. Budaya global yang selalu dipengaruhi oleh budaya kuat dari negara-negara maju seperti negara di benua Amerika seperti Amerika Serikat dan Kanada, negara di benua Eropa seperti Inggris dan Jerman, negara di benua Asia seperti Jepang dan China . Gesekan budaya tersebut dialami oleh pengguna Media Pembelajaran yang ditandai dengan penggunakan sumber belajar global. Sumber Pustaka, koneksi denga Dosen, akses url addres, broadcast sebagian besar merupakan produk budaya global. Prilaku belajar global adalah prilaku belajar yang tidak lagi dibatasi oleh ruang-ruang kelas. Lebih luas budaya global memiliki dimensi kebebasan belajar dengan menggunakan media pembelajaran secara optimal seperti contoh korespondensi, belajar dengan menggunakan perangkat broadcasting seperti radio dan televisi, belajar dengan menggunakan fasilitas networking berupa LAN, WAN, intranet, internet dan lain-lain. Lembaga penyelenggaran pendidikan dan pembelajaran merupakan entitas mendapat pengaruh budaya global. Hal ini ditandai oleh penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam kegiatan pembelajaran maupun dalam mencari sumber belajar. Teknologi informasi dan komunikasi selalu menjadi topik pembahasan dan sekaligus digunakan sebagai perangkat dalam dalam mencari, mengolah, mengelola, menampilkan dan menyampaikan sumber belajar. Hal inilah yang menjadi alasan bahwa Lembaga penyelenggaran pendidikan dan pembelajaran akan mengikuti budaya global dengan mengimplementasikan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam bidang pendidikan dan pembelajaran.

Lembaga penyelenggaran pendidikan dan pembelajaran secara terus menerus berupaya mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai wujud layanan. Upaya tersebut ditunjukkan melalui penyediaan berbagai fasilitas teknologi Informasi dan komunikasi berupa penyedian instalasi LAN, pemasangan Web-site, Penyediaan perangkat keras, memberikan kepada pengguna hak akses sumber belajar melalui jalur-jalur tertentu, dan untuk menunjang kegiatan pembelajaran terutama kebutuhan terhadap sumber belajar, di lingkungan Lembaga penyelenggaran pendidikan dan pembelajaran, baik dalam perencanaan maupuun pengembangan, pasti mengupayakan untuk memberikan fasilitas jaringan, perangkat akses dan Internet yang dapat menjangkau di seluruh lingkungan Lembaga penyelenggaran pendidikan dan pembelajaran sebagai layanan informasi dan komunikasi sebagai Media Pembelajaran  yang dapat dimanfaatkan bagi dosen maupun oleh pebelajar. Jalur-jalur yang digunakan untuk melayani adalah jalur lokal, internet

Lembaga penyelenggaran pendidikan dan pembelajaran harus memiliki komitmen pengembangan teknologi informasi dan komunikasi diarahkan dengan pemberdayaan seluruh fasilitas yang tersedia di lingkungan Lembaga penyelenggaran pendidikan dan pembelajaran. Dampak komitmen tersebut nantinya akan mendukung Lembaga penyelenggaran pendidikan dan pembelajaran dalam menunaikan program-programnya, termasuk pemberian layanan pembelajaran melalui media pembelajaran dengan mudah dan baik. Lembaga penyelenggaran pendidikan dan pembelajaran harus memiliki keinginan pada proses pembelajaran melalui media pembelajaran terkini. Sebagai contoh media pembelajaran berbasis web digunakan sebagai media pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran, maka dampaknya Lembaga penyelenggaran pendidikan dan pembelajaran akan mudah mengendalikan aktivitas akademiknya, terkait dengan perkuliahan dan penyajian mata kuliah.

MEDIA PEMBELAJARAN
Media dan teknologi telah diasumsikan berbagai kalangan sebagai perangkat yang membutuhkan teknologi tinggi. Orang-orang yang bekerja dengan teknologi pendidikan memiliki kegemaran membuat inovasi, dan selalu melaksanakan inovasinya ke dalam media pembelajaran di lingkungan pembelajarannya. Ketika lembaga penyelenggara pendidikan dan pembelajaran telah pada fese lembaga yang mengimplementasikan  media, hal yang baik adalah lembaga penyelenggara pendidikan dan pembelajaran tidak ada lagi kebutuhan untuk memotivasi orang untuk menggunakannya. Tantangan lembaga penyelenggara pendidikan dan pembelajaran ke depan justru bagaimana untuk memotivasi orang untuk menggunakan media secara efektif dan efisien. Media tidak hanya akan mengubah cara pebelajar mau belajar, tetapi juga akan mengubah cara pendidik dan pengajar berpikir tentang mengajar dan belajar.

Teknologi baru kan membuat budaya baru. Media dan teknologi penuh dengan potensi kreatif dan pada saat yang sama dengan juga memiliki potensi penyalahgunaan dan bahkan “pelecehan”. Kehadiran terlihat dari teknologi dalam sebuah lembaga penyelenggara pendidikan dan pembelajaran tidak selalu menguntungkan mayoritas pebelajar dan meningkatkan pembelajaran. Hanya dengan paparan media dan teknologi saja untuk peserta pebelajar tidak cukup. Tidak ada jaminan bahwa belajar akan berlangsung dengan baik hanya dengan media pembelajaran.

Media seharusnya tidak untuk digunakan hanya tambahan dalam proses belajar dan pembelajaran. Pengguna media pembelajaran harus mampu mengeksplorasi kekuatan dan potensi media pembelajaran sehingga proses belajar dan pembelajaran menjadi yang sangat berharga. Penggunaan media harus menjadi faktor utama dalam kualitas pembelajaran. Penggunaaan media dan teknologi pembelajaran secara efektif dan efisien merupakan tantangan dan peluang bagi pendidik dan pengajar. Jika efektifitas dan efisiensi tidak dihiraukan, maka hukum dasar yang berlaku untuk penerapan media dan teknologi untuk belajar dan pembelajaran yaitu media dan teknologi pembelajaran tidak mengurangi biaya atau meningkatkan hasil bagi siapapun.

 PERGESERAN PARADIGMA MEDIA PEMBELAJARAN
Seorang pengajar dan pendidik tidak lagi sebagai “benteng pengetahuan”. Peran pengajar dan pendidik telah berubah. Titik awalnya adalah pengajar dan pendidik sebagai dari salah satu “dispenser” informasi dengan sebuah fasilitator pembelajaran dan kemudian mengasumsikan peran seorang manajer di kelas. Hingga perkembangan sekarang, pengajar dan pendidik mengalami pergeseran yang jelas dalam peran saat mendidik dan mengajar dari model komunikasi satu arah menjadi komunikasi dalam multi-dimensi.

Paradigma pendidikan dan pengajar tradisional menyajikan situasi di mana pendidik dan pengajar memberikan instruksi berdasarkan pengetahuan dan pengalaman mereka sendiri. Pendidik, dalam paradigma ini, adalah sumber utama informasi, dan mengendalikan urutan presentasi. Pengetahuan dan informasi yang dikirim dan ditransfer secara linear dari pengirim ke pelajar.

Paradigma berbasis teknologi menyediakan akses ke teknologi penyimpanan modern pada workstation pebelajar. Pebelajar sekarang dapat mengakses dan memanipulasi informasi pada tingkat yang lebih cepat, menghilangkan pembatasan yang dikenakan pada mereka dengan paradigma lama. Model komunikasi multi-dimensi ini memungkinkan pebelajar untuk berinteraksi dengan materi pelajaran, dengan pebelajar lain, dengan lingkungan atau dengan multimedia dan teknologi. Teknologi memfasilitasi penyampaian informasi dengan memberikan pebelajar berbagai pilihan berdasarkan penilaian berkelanjutan masing-masing pebelajar, juga memberikan motivasi dan kemampuan kognitif. Dengan memberikan akses langsung ke pengetahuan dasar, paradigma baru menantang pebelajar untuk mengelola dan memanipulasi sejumlah besar informasi sementara mendorong mereka untuk merefleksikan pembelajaran mereka sendiri. Hal ini memungkinkan pebelajar untuk mengubah peran yang selama ini hanya sebagai penerima pasif informasi menjadi peran pencari pengetahuan yang aktif.

Pebelajar menerima informasi dan instruksi dalam banyak mode dan dari berbagai sumber. Karena tradisi bahan cetak dalam pendidikan, kita sudah terbiasa untuk membaca secara berurutan dan linear. Informasi ditemui dalam urutan kunci-langkah yang telah ditentukan. Pikiran kita dibatasi oleh keterbatasan media cetak. Kondisi terkini, pembatasan akses ke teknologi bisa menjadi salah satu hal yang mematikan motivasi belajar. Volume konten pembelajaran yang telah dianggap sebagai informasi tidak akan efektif diakses dengan cara konvensional. Jika konten pembelajaran dicetak untuk digugunakan pebelajar, maka hal ini sama dengan terlalu membatasi, membuat informasi yang berisi konten pembelajaran menjadi berat dan lambat. Media dibangun di sekitar anggapan bahwa apa pun kata-kata di media cetak dapat lakukan, kata-kata dengan suara dan gambar dapat berbuat lebih baik.

Selain itu, untuk media cetak yang lebih umum (buku), media audio (kaset audio), media yang ditampilkan (grafik) atau media diproyeksikan (slide); ada yang konvensional media elektronik komunikasi (televisi, radio) dan media komputer (internet, email, CD-ROM). Sebagian besar informasi yang disimpan dalam format elektronik. Penggunaan media menimbulkan masalah dan tantangan yaitu keterampilan pengguna media pembelajaran harus pada tahap mampu memperoleh dan menguasai. Seperti halnya pengetahuan teknis, pengetahuan peralatan, literasi komputer dan untuk mengembangkan disposisi pribadi terhadap berbagai media yang tersedia .

PENGATURAN PARAMETER MEDIA PEMBELAJARAN
Pemilihan media
Pilihan metode pengajaran dan media tergantung pada situasi belajar, pelajar, subjek, pendidik dan lembaga. Media dan metode harus mendapatkan perhatian untuk karakteristik intrinsik mereka. Ajaran konten harus dilakukan melalui media yang paling tepat – baik itu audio, audiovisual, tatap muka, media elektronik, paket belajar mandiri dll dan pilihan media harus menjadi bagian dari tahap perencanaan pengembangan kurikulum.

Pemilihan media merupakan tahap kunci dalam proses pembelajaran yang digunakan oleh pendidik dan pengajar. Dalam era di mana inovasi dalam media elektronik, kini media pembelajaran hadir menjadi sebab kebingungan pilihan bagi praktisi pendidikan, pemilihan media dan faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan perlu dipahami sepenuhnya jika pilihan yang tepat harus dibuat.

Teknologi pendidikan telah melihat pergeseran secara bertahap tapi signifikan dari paradigma perilaku paradigma kognitif, menjadi perspektif konstruktivis pada desain pembelajaran. Paradigma ini memiliki pandangan eksplisit dan implisit pengetahuan, pelajar dan media. Hal ini jelas ditunjukkan dalam pembangunan model yang berbeda dari desain pembelajaran dan lebih khusus pada pemilihan media. Media pembelajaan perlu diseleksi dan dilakukan pendekatan berbagi pandangan umum dari pemilihan media sebagai tahap penting dalam desain suatu peristiwa pembelajaran. Romiszowski menggambarkan secara komprehensif bagaimana pengguna dapat memilih media pembelajaran melalui serangkaian pertanyaan yang dirancang untuk membantu seleksi bagi  kelompok yang melakukan penolakan terhadap varian media sampai pilihan terakhir yang tersisa untuk daftar pendek media yang sesuai. Adapun material pertanyaannya adalah

·       Apa materi pembelajarannya ?
·       Apa jenis tugas pembelajarannya ?
·       Siapa populasi sasarannya ?
·       Apa keterampilan penggunanya ?
·       Bagaimana kondisi fisik media ?
·       Bagaimana ruang yang digunakan ?
·       Bagaimana Pencahayaannya ?
·       Bagaimana karakteristik pebelajar ?
·       Bagaimana Gaya belajarnya ?
·       Apa Kendala praktis ?
·       Berapa dananya ?
·       Kapan dilaksanakannya?
·       Apa Bahan Medianya?
·       Pendidik dan Pengajar?

Pembelajaran yang baik disediakan oleh pendidik dan pengajar yang fasih dengan materi pelajaran, informasi tentang karakteristik pebelajar mereka, mampu memberikan pengetahuan dengan cara yang berarti, menarik dan memotivasi, membimbing mereka menuju pemahaman yang lebih besar dari subjek mereka dan dalam umum untuk lebih siap berfungsi sebagai warga dalam lingkungan. Bagaimana bisa seorang pendidik dan pengajar menjadi pembelajar yang baik? Tidak diragukan lagi dengan membuka saluran komunikasi, menggunakan semua tersedia dan jalur yang paling efektif untuk menjangkau pebelajar. Beberapa pendidik dan pengajar yang sangat baik adalah sosok yang terampil menggunakan saluran komunikasi verbal, tetapi kebanyakan dari kita tidak, dan sayangnya, pendidik dan pengajar acuh tak acuh dengan komunikasi yang baik. Di sinilah penggunaan media dan teknologi membantu pendidik dan pengajar dengan membuat tugas mengajar lebih mudah dan membangun pengalaman pebelajar yang lebih bermanfaat. Ketika berhadapan dengan media yang berteknologi tinggi disposisi pribadi pendidik terhadap media pembelajaran menjadi penting. Ini mungkin melibatkan kemampuan untuk mengubah, mengeksplorasi cara-cara baru tanpa prasangka, antusiasme, untuk berpindah dari satu model pembelajaran yang lain dalam subjek berbeda, wawasan untuk menampilkan pemikiran inovatif dengan tetap mempertahankan kritis, pendekatan rasional untuk hasil belajar yang diperlukan, keterampilan untuk mengadopsi dan mengembangkan gaya pribadi yang kompatibel dengan media tertentu dan berusaha terhadap lingkungan belajar yang optimal.

Tidak ada satu teknologi benar-benar dapat menyaingi pendidik dan pengajar, jika pendidik dan pengajar adalah ahli dalam memberi dan menerima informasi. Edward Murrow pernah berkata, “teknologi itu sendiri dapat mengajar, tetapi tanpa unsur manusia, teknologi seperti sekotak kabel …” Pendidik hari memiliki ketakutan ditandai menggunakan media dan strategi baru. Alasannya sederhana, mengapa repot-repot untuk mengatur peralatan dan meminjam media -jika seseorang dapat mengelola tanpa mereka. Setelah dididik dengan media pembelajaran, banyak orang cenderung untuk tinggal dengan akrab dengan media, melakukan  pendekatan ‘dicoba dan diuji’, mengikuti jalur yang paling perlawanan dengan mengadopsi metode yang sama sekali berbeda seperti ketika mereka belajar. Banyak pendidik dan pengajar belum meyakinkan tempat media dan teknologi dalam pendidikan. Keterampilan baru akan dibutuhkan dalam membangun konsensus dan pengaturan prioritas yang gaya proaktif menggantikan reaktif khas pendidik dan pengajar. Seperti setiap artis, seorang pendidik dan pengajar harus memperoleh keahlian melalui pelatihan formal dan pendidikan, serta menguasai keterampilan melalui latihan. Pendidik harus berpengetahuan dan tanpa kompromi dalam mereka berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk situasi pebelajar menemukan dirinya dalam. Jika pendidik memiliki fobia terhadap media pembelajaran tertentu, mereka tidak mungkin untuk menggunakannya dengan baik. Pertanyaan tentang sikap dan perasaan pendidik dan pengajar adalah salah satu faktor yang paling penting yang mempengaruhi keberhasilan pelajaran apapun. pendidik dan pengajar harus memiliki pikiran terbuka terhadap penggunaan media. Terang-terangan mengabaikan situasi belajar dan karakteristik pebelajar pasti media pembelajaran hanya akan mengarah pada desain saja dan miskin konten pembelajaran.

Ada kebutuhan untuk sepenuhnya menerima kemungkinan dan keterbatasan teknologi baru. Mesin gadget memiliki makna bahwa penggunaan media melalui dari mana subjek pembelajaran dapat diajarkan dan bahwa pengguna tidak bisa menyelesaikan tugas ini sendiri. Hanya dengan paparan media untuk pebelajar tidak cukup.

Faktor biaya
Menggunakan media pembelajaran lebih mahal daripada bicara dan metode kapur. Tentunya pertimbangannya bukan semata-mata tentang masalah harga. Biaya ini harus ditimbang terhadap efektivitas langsung dan pemahaman yang cepat dari konten pembelajaran. Implikasi biaya jangka panjang harus dihitung untuk memasukkan biaya produksi, hardware dan software, total jam per hari sistem dapat dimanfaatkan. Penekanan saat ini tidak pada salah satu pendekatan atau umpan balik – tapi pada integrasi berbagai metode dan media pada sebuah lingkungan pembelajaran yang tepat dan efektif baik untuk kebutuhan khusus maupun keragaman pebelajar.

Lembaga sering memperoleh media dalam mode non-sistematis. Umumnya penggunaan yang tepat tidak ditentukan sebelum pembelian perangkat keras. Seringkali media, yang telah dibeli tidak sebaik media pembelajaran yang disumbangkan kepada lembaga dari hasil mahapebelajar, guru, dosen dll. Tujuan media adalah untuk menyederhanakan pembelajaran. Media Pembelajaran tidak harus membuat proses belajar lebih kompleks. Media yang digunakan, kadang-kadang, tanpa banyak berpikir. Mereka dipilih berdasarkan ketersediaan mereka. Media dan teknologi akan mengurangi bukannya meningkatkan efisiensi kecuali dikelola dengan baik.

Hardware dan atau perangkat lunak tidak cocok dan sering dipaksakan dan diterima oleh pendidik tak peduli. Pendidik yang gemar mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut: Haruskah kita membeli ini atau perangkat keras itu? atau perangkat lunak apa yang bisa kita buat? Pertanyaan-pertanyaan yang tepat pendidik harus bertanya adalah: Bisakah kita mengabaikan tugas kita untuk pendidik dan pengajar? Bisakah kita dalam proses mengabaikan media yang tepat yang dapat memandu pebelajar untuk memperoleh informasi dan keterampilan baru? Ada perbedaan besar antara menggunakan teknologi secara efektif dan menambahkan teknologi untuk struktur kurikulum yang ada.

 Pemanfaatan Media
Salah satu presenter baru-baru ini mengatakan, pemanfaatan media yang berarti lebih dari satu perjalanan ke tujuan. Tren riset media pembelajaran sejauh ini tampaknya mengarah pada kesimpulan bahwa pembelajaran dipengaruhi oleh kualitas presentasi hanya sebatas bahwa kualitas mempengaruhi kejelasan pesan. Selama bertahun-tahun domain pemanfaatan berpusat di sekitar kegiatan pendidik dan pengajar. Pengajaran dan pembelajaran model dan teori-teori saat ini fokus pada perspektif pengguna. Tidak ada satu media yang juga memiliki teknologi semua atribut yang idealnya diperlukan dalam tugas pembelajaran. The ASSURE model yang disajikan dalam teks dengan Seels dan Richey (1995: 43) telah menjadi panduan yang diterima secara luas untuk membantu pendidik merencanakan dan menerapkan penggunaan media dalam situasi mengajar. Langkah-langkah dalam model ini adalah

  1. Analisis pebelajar
  2. tujuan
  3. Pilih media dan bahan
  4. Memanfaatkan media dan bahan
  5. Membutuhkan partisipasi pelajar
  6. Mengevaluasi dan merevisi

Daniel Kinnaman (Grey: 1994-1945) menyatakan, “di era informasi, pebelajar perlu melakukan lebih dari sekedar mencari informasi – mereka perlu tahu bagaimana untuk memisahkan bulu dari substansi”. Untuk meningkatkan prestasi pelajar, media dan teknologi harus digunakan secara efektif dalam proses pembelajaran daripada sebelumnya. Teknologi baru menyajikan prospek menciptakan rangsangan yang semakin realistis, menyediakan tor akses cepat dalam jumlah besar informasi, cepat menghubungkan informasi dan media, menghilangkan hambatan jarak antara instruktur dan pebelajar dan di antara pebelajar itu sendiri. Orang kaya memiliki kekuatan yang tak terhitung di ujung jari mereka dan melalui kinerja tinggi dan manipulasi komunikasi dan komputasi sumber daya dan bekerja dengan orang lain di sekitar pada dunia global. Mereka yang gagal untuk memahami dan mempelajari penggunaan komunikasi dan komputasi sistem akan menjadi kelas bawah benar-benar kurang beruntung dalam masyarakat yang semakin kompetitif.

 MEDIA PEMBELAJARAN BERPUSAT PADA PEBELAJAR
Tekanan dari berbagai pihak semakin meningkat kepada pendidik dan pengajar untuk memasukkan media pembelajaran dengan teknologi email, web dan multimedia – ke dalam program mereka dan praktek mengajar. Akibatnya pendidik perlu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan baru dalam desain dan produksi sumber daya multimedia. Ada kebutuhan yang berkembang bagi pendidik untuk memahami proses desain media serta proses desain pendidikan. Namun kerangka desain pembelajaran dalam literatur tampaknya tidak mengakui proses yang mapan desain media pembelajaran. Apapun bisa berubah kecuali yang tetap adalah perubahan itu sendiri

Pendidik dan pengajar harus semakin menyadari awal dari pergeseran paradigma penggunaan media pembelajaran adalah konteks, peran, pengiriman dan pola pendanaan pendidikan dan pembelajaran. Pertumbuhan baik jumlah maupun jenis media meningkat seperti garis eksponensial dalam penggunaan internet, khususnya web sejak tahun 1995 dengan kemampuannya untuk berkomunikasi beberapa media informasi – teks, gambar, audio, animasi, video – interaktif dan sekarang telah menjadi cara instan untuk melintasi batas-batas Negara. Toffler (1990) menegaskan pengamatannya bahwa “apa yang terjadi adalah munculnya sistem yang sama baru yang menyediakankekayaan pada komunikasi instan, data, ide, dan symbol dll “.

Media pembelajaran baru memungkinkan perubahan praktik pendidikan dan pembelajaran dengan cara yang sering digambarkan sebagai “komunikasi fleksibel”, “belajar fleksibel” dan “mediasi belajar”. Sumber daya yang cukup menawarkan pembelajaran dalam mode fleksibel untuk lebih pebelajar. Sebuah alasan yang umum adalah bahwa fleksibel berbasis internet adalah di mana saja dan kapan saja, pembelajaran harus ditawarkan oleh lembaga yang memberikan layanan pendidikan dan pembelajaran dengan tanpa batas untuk mempertahankan posisi pendidik dan pengajar. Posisi tersebut berkaitan dengan memiliki relevansi di pasar global dan keberagaman fasilitas pada lembaga penyelenggara pendidikan dan pembelajaran sebagai penyedia yang kompetitif.

Metodologi industri yag berkembang saat ini adalah bagaimana informasi dibuat, diakses, disampaikan, dan digunakan dalam konteks kehidupan yang cepat berubah. Dede (1996) berpendapat bahwa “untuk berhasil mempersiapkan pebelajar sebagai warga Negara yang produktif, pendidik dan pengajar harus memasukkan ke dalam pengalaman kurikulum dengan menciptakan dan memanfaatkan bentuk-bentuk media pembelajaran dengan ekspresi baru, seperti multimedia. Keterampilan inti untuk tempat kerja saat ini tidak hanya “mencari makan saja”, tapi pekerjaan membutuhkan penyaringan sejumlah besar informasi yang masuk, kemudian mengelola informasi dan bermuara dalam mengeksekusi kebijakan atau tindakan berdasarkan informasi. Sehingga konteks ini bersifat memperluas definisi media pembelajaran yang bersifat tradisional dan retorika agar menjadi pengalaman berpusat pebelajar dengan berinteraksi dengan informasi sangat penting untuk mempersiapkan pebelajar untuk berpartisipasi penuh dalam masyarakat abad ini.

Kurikulum pendidikan terus berubah dari informasi teks yang berpusat pada guru dan ujian tertulis dan perangkat laiinya telah berubah dengan memposisikan pebelajar sebagai peserta aktif dalam proses pencarian, pengorganisasian, analisis, menerapkan dan menyajikan beberapa media informasi dengan cara baru untuk mengatasi masalah dan menyelesaikan serangkaian masalah. Hasil belajar bukan dalam bentuk ukuran nilai. Hasil belajar merupakan kapasitas pebelajar untuk menangani secara independen dengan informasi baru dalam berbagai konteks dalam berbagai bentuk dengan menggunakan berbagai media pebelajar.

Pebelajar bijaksana di era sekarang akan mencari dan bersedia membayar biaya pembelajaran yang mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang membutuhkan informasi untuk menjadi pengusaha bukan sebagai pekerja. Berbagai Universitas dan entitas virtual lainnya (di dunia maya) mulai memberikan penawaran kualitas dan akan mengambil alih pebelajar dari lembaga penyelenggara pendidikan dan pembelajaran yang masih bersifat tradisional.

Tuntutan budaya, politik, ekonomi dan kelembagaan yang meningkat telah  menuntut pendidik dan pengajar untuk memanfaatkan media komunikasi baru melalui email, web dan multimedia dalam kaitannya dengan belajar dan pembelajaran. Kurikulum yang fleksibel berkembang menjadi pengalaman dimediasi jika dikembangkan dan dimoderatori oleh fasilitator pendidik dan pengajar yang handal. Ada kebutuhan yang sangat nyata bagi pendidik dan pengajar untuk memahami proses desain media generik dan untuk mengembangkan keterampilan dalam menghasilkan sumber daya multiple-media pembelajaran.

 PERGURUAN TINGGI DAN PENYEDIA LAYANAN DI INTERNET
Perguruan Tinggi di seluruh dunia sebagian besar mulai tergantung pada teknologi informasi dan komunikasi untuk melayani kebutuhan kegiatan belajar dan pembelajaran. (Wing Lai : 2011) Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi mendukung pergeseran praktek-praktek budaya dalam proses belajar mengajar di perguruan tinggi. Penggunaan teknologi informasi juga untuk lebih memenuhi kebutuhan abad ke-21 pengguna dari kalangan akademisi pendidikan tinggi. Teknologi informasi dan komunikasi digital dapat memberikan pengalaman belajar lebih aktif dan fleksibel dengan mengadopsi pendekatan pedagogis partisipatif dan dengan memadukan pembelajaran formal dengan pembelajaran informal. Berbagai keunggulan dan kekurangan merupakan paket yang dirasakan sebagai resiko penggunaan teknologi.  Salah satu paket tersebut adalah pengadaan dan pemeliharaan berbagai hardware dan software secara khusus memerlukan investasi berkelanjutan dan keterampilan sumber daya untuk mendukung keberlangsungan teknologi.

Negara berkembang di kawasan Asia Tenggara semakin menyadari peran penting Perguruan Tinggi dalam meningkatkan sumber daya melalui penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi. (Hong dan Songan: 2011) Sistem pendidikan tinggi di wilayah Asia Tenggara semakin memanfaatkan TIK dalam menangani tantangan yang timbul. Adapun tantangannya adalah 1) apa dan bagaimana siswa belajar, 2) kapan dan di mana mahasiswa belajar, dan 3) cara-cara untuk mengurangi biaya pendidikan. Negara-negara di Asia Tenggara berada pada tahap perkembangan yang berbeda dengan negara maju dalam penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam pendidikan di Perguruan Tinggi. Dengan demikian, berbagi pengalaman dalam penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam pendidikan tinggi sangat penting bagi dosen dan pengelola yang berada di garis depan pengintegrasian Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan aktifitas belajar dan pembelajaran.

Teknologi pada sistem “cloud computing” merupakan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Paket yang dijanjikan adalah skala ekonomis yang menjanjikan dan fitur yang mampu meningkat pelayanan lembaga. Isyu terbaru adalah sistem layanan “cloud computing” kian bertambah banyak dan disediakan tanpa berbayar dan hanya menggunakan teknologi Internet. Pengguna dari kalangan akademisi seperti dosen, mahasiswa, staf dan penentu kebijakan dapat memanfaatkan sistem “cloud computing” dengan mengakses dari web browser yang telah disediakan. Layanan yang ditawarkan dapat dianggap murah atau bahkan bebas untuk pendidikan. Dalam berbagai hal bahkan ketersediaan layanan lebih tinggi dan lebih baik daripada yang dapat diberikan oleh Perguruan Tinggi .

Desain besar telah diimplementasikan oleh penyedia layanan internet. Kecenderungan teknologi masa depan mulai mengarah pada sebagian besar layanan pendidikan, belajar dan pembelajaran akan diselenggarakan melalui “ cloud computing” . Institusi sebagai bagian dari dunia global tidak lagi menjadi tuan rumah pusat data mereka sendiri dikarenakan dengan investasi perangkat keras yang mahal , tagihan listrik yang membengkak, gaji pengelola dan banyaknya fitur yang jarang dimanfaatkan sepenuhnya. Perkembangan sistem “cloud computing” merupakan mahakarya untuk mewujudkan globalisasi sesungguhnya.

PAKET LAYANAN PADA SISTEM CLOUD COMPUTING

Sistem “ cloud computing” yang ditawarkan oleh berbagai pihak penyedia layanan internet memiliki beberapa paket. Sebagian diantara paket-paket tersebut adalah:

Pengendalian Jarak Jauh terhadap Pusat data
Layanan pada sistem “Cloud computing” yang disampaikan melalui Internet dari pusat data yang memiliki spesifikasi tinggi dibangun di lokasi yang jauh dari pengguna dan institusi Perguruan Tinggi . Para penyedia server telah memiliki fitur yang telah mereka investasikan berupa sistem pendingin terbaru dan teknik optimasi layanan. Jika investasi ini dilakukan oleh perguruan tinggi, akan membebani sistem anggaran secara signifikan. Pusat-pusat data yang dikembangkan oleh penyedia layanan berada pada lokasi yang dekat sumber listrik murah. Bahkan lokasi pusat data tidak selalu diketahui pengguna, meskipun dalam beberapa kasus pengguna membutuhkan layanan yang berlokasi di negara-negara tertentu karena data undang-undang perlindungan. Penyedia layanan menyediakan hak akses dan pengendalian terhadap data yang tersimpan melalui sistem “cloud computing”

Swakelola layanan sesuai kebutuhan
Fitur layanan utama seperti penyimpanan data , pemrosesan, memori dan bandwidth dibagi secara proporsional terhadap beberapa pengguna dan dapat dialokasikan secara dinamis hingga layanan dapat dialokasikan berdasarkan pada permintaan. Komponen perangkat keras yang disediakan oleh penyedia layanan dapat diganti tanpa berdampak pada layanan belajar, pembelajaran, kinerja atau bahkan ketersediaan ruang baru. Pengelolaan terhadap data yang tersebar di beberapa pusat data dalam kategori aman karena penyedia layanan memberikan jaminan keamanan dan ketahanan dengan sistem terbaru.

Fitur layanan utama dari sistem “cloud computing” adalah elastis dan cepat. Faktor ini memungkinkan pengelola  perguruan tinggi maupun akademisi yang menggunakan sistem “cloud computing” secara mendadak melakukan permintaan layanan. Sistem “cloud computing”  yang telah dimplementasikan hingga saat ini telah memberikan kesan bahwa pengelolaan layanan yang terukur namun mampu menyediakan layanan tidak terhingga kepada para pengguna. Penjelasan yang termudah adalah Jika Perguruan Tinggi dan pengguna akademisi ingin meningkatkan penggunaan secara mendadak harus ada, maka tidak perlu mengajukan atau membeli perangkat keras tambahan yang bisa memakan waktu berminggu-minggu dan kemudian dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Pengelolaan alokasi anggaran merupakan isyu paling menarik dalam penggunaan sistem “cloud computing”. Jika dalam sistem “cloud computing” membutuhkan alokasi anggaran, maka pengguna hanya membayar untuk layanan yang digunakan. Penyedia layanan akan menanggung biaya hardware dan penyediaan perangkat lunak. Pada beberapa fitur yang disediakan pada sistem “cloud computing”, menggunakan fitur-fitur tidak berbayar. Sehingga, Penyedia layanan akan menanggung sepenuhnya terhadap biaya hardware dan penyediaan perangkat lunak.

Secara umum pengelolaan layanan oleh pengguna dapat dilakukan secara swakelola. Pengguna dapat memutuskan fitur-fitur apa yang digunakan , dan menambah atau mengurangi ini tanpa harus mendiskusikan dengan penyedia layanan. Fasilitas pelaporan disediakan sehingga pelanggan dapat memantau penggunaan fitur .

IMPLEMENTASI CLOUD COMPUTING
Beberapa penyelenggara pendidikan bahkan Perguruan Tinggi yang telah menggunakan layanan belajar dan pembelajaran on-line, belum mengunakan sistem “cloud computing” secara optimal.  Beberapa perguruan tinggi bahkan telah salah mengasumsikan terhadap sistem “cloud computing”. Asumsi terhadap sistem “cloud computing” adalah sebuah sistem dalam Internet yang tidak banyak memberikan dukungan terhadap proses belajar dan pembelajaran dan hanya memfasilitasi kegiatan yang tidak diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi. Perguruan tinggi bahkan kebingungan antara istilah Web 2.0 dan sistem “cloud computing” .


Gambar 1 Cloud Computing Jurusan Teknologi Pendidikan

Teori “cloud computing” memang belum mendapatkan kesepakatan dalam pemahaman secara global. Hal tersebut juga berlaku pada teknologi web 2.0. Blog, wiki, twitter, facebook dan lain-lain merupakan teknologi yang dianggap sebagai aplikas Web 2.0. Aplikas teknologi web 2.0 memungkinkan pengguna untuk mengubah isi dari halaman web dan berinteraksi dengan orang lain melalui aplikasi sehingga tercipta kontruksi informasi dan komunikasi 2 arah. Perangkat lunak web 2.0 dapat diselenggarakan oleh Perguruan tinggi melalui intranet atau diakses secara umum melalui Internet. Pada konteks ini, Web 2.0 dapat dianggap sebagai jenis aplikasi tertentu sedangkan “cloud computing” adalah sistem yang memungkinkan beberapa metode dalam berbagai aplikasi yang memungkinkan adanya aktivitas penyimpanan, pemrosesan, pengelolaan, pengiriman .

Langkah menuju sistem “cloud computing” pada perguruan tinggi dimulai dengan dengan memanfaatkan penyediaan email mahasiswa. Layanan email adalah layanan mendasar, standar , dan dapat diberikan dengan mudah oleh pihak penyelenggara layanan. Walaupun kedudukannya merupakan aplikasi yang mendasar, email justru diklaim bukan merupakan inti, penting atau mendesak untuk misi pendidikan nasional. Gmail, Ymail, Hotmail dll dalam kenyataannya telah menawarkan layanan email gratis baik perorarangan maupun kelembagaan untuk sektor pendidikan di seluruh negara. Tendensi berbagai perusahaan menyediakan email adalah sebagai bagian dari pendukung aplikasi yang lebih besar. Misalnya untuk mendaftarkan akun sebuah aplikasi yang ditawarkan. Persusahaan Internasional yang peduli sangat konsisten dalam dunia pendidikan adalah perusahaan google dengan Google Apps for Education dan Perusahaan Microsoft melalui microsoft Live @ edu. Secara umum, sistem yang ditawarkan adalah alat komunikasi seperti teknologi pesan yang dibuat secara instan beserta pengelolaan sistem dan software aplikasi lainnya. Ada juga aplikasi dokumen berupa pengolah kata, pengolah angka hingga presentasi dilengkapi dengan fasilitas dari penyimpanan, pemrosesan hingga bagaimana penyampainnya, Ruang penyimpanan sangat signifikan untuk seluruh dokumen dan dari semua jenis. Layanan tersebut ditawarkan kepada pengguna dan bahkan dapat terus menggunakan setelah mereka meninggalkan Perguruan Tinggi.

Banyak layanan yang diberikan secara gratis kepada Perguruan Tinggi. Sejumlah keuntungan bagi perusahaan yang saat ini bersaing untuk merebut pangsa pasar. Software aplikasi yang disediakan didiskon dan bahkan tanpa berbayar untuk sektor pendidikan.  Penyedia layanan berusaha untuk membangun hubungan dengan Perguruan Tinggi yang menyediakan sumberdaya manusia pada masa depan. Di samping itu mereka membangun merek dan “loyalitas” penggunaan yang dapat menyebabkan penjualan terhadap layanan lainnya.

Penggunaan lain terhadap sistem “cloud computing” yang mulai muncul dalam perguruan tinggi adalah untuk hosting sistem manajemen pembelajaran atau yang lebih dikenal dengan LMS (Learning Management System). Penyedia layanan LMS seperti Claroline, Blackboard, Dokeos, Moodle dan lain-lain bahkan memberikan lisensi tidak berbayar kepada pihak Perguruan Tinggi atau lembaga pendidikan pengguna aplikasi

CLOUD COMPUTING PADA SISTEM PEMBELAJARAN
Sistem pembelajaran merupakan kekuatan utama pada lembaga pendidikan secara umum. Perguruan tinggi merupakan lembaga pendidikan tinggi yang memiliki keragaman layanan dalam sistem pembelajaran. Trend layanan perguruan tinggi adalah layanan dengan tajuk “e-learning”. Berbagai versi aplikasi e-learning telah dimanfaatkan sebagai sarana dalam sistem pembelajaran. Nuansa e-learning mewarnai setiap teori, model bahkan hingga kajian-kajian diskusi dan penelitian. Sehingga e-learning merupakan aplikasi layanan unggulan dalam sebuah sistem pembelajaran di Perguruan Tinggi.

Sistem pembelajaran modern tidak bisa dimonopoli lembaga dan cenderung fleksibel terhadap jenis dan letak sumber belajar. Perguruan Tinggi tidak mungkin menutup akses dua arah dengan penyedia layanan di Internet. Bahkan entitas pengguna tidak hanya pada kalangan civitas akademika. Sehingga “kesemrawutan” di era belajar telah diantisipasi oleh sistem yang sangat besar yaitu “cloud computing”. Kekuatan yang luar biasa telah muncul dan telah siap untuk diaplikasikan dalam sistem pembelajaran Perguruan Tinggi.

MEMANFAATKAN APLIKASI SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN

Aplikasi yang ditawarkan oleh perusahaan google sangat banyak dan memiliki keunggulan yang patut diperhitungkan. Jika sampai hari ini hanya mengenal google sebagai mesin pencari berbasis web, maka dapat dikatakan sebuah kerugian besar. Ironisnya banyak yang menggunakan aplikasi milik google tanpa menyadarinya. Sistem Operasi “Android” dan penyimpanan video “Youtube” merupakan sebagian aplikasi yang ditawarkan google dan diberikan “gratis”.


Gambar 2. Aplikasi Gratis Google

Bahkan yang lebih “menyenangkan” adalah perusahaan-perusahaan dibawah google atau mendukung google semakin banyak. Perusahaan tersebut bergabung dalam sebuah wadah aplikasi google.


Gambar 3. Berbagai Aplikasi Google

Berbagai aplikasi layanan telah disediakan dan diberikan penjelasan yang cukup terdapa tatacara penggunaannya. Pengguna google seperti dimanja oleh ribuan aplikasi. Pengguna hanya perlu memilih aplikasi yang sekarang dibutuhkan atau membiarkan aplikasi yang kurang dibutuhkan. Pengguna dapat mengelola aplikasi yang telah terkoneksi oleh aplikasi google, tanpa harus meminta persetujuan ulang/berkali-kali.


Gambar 4. Aplikasi Pendidikan

Aplikasi-aplikasi yang tidak berbayar, jika telah terpasang, akan langsung siap untuk digunakan dan dimanfaatkan, tanpa harus menunggu lisensi atau pembenahan legalitas.

MENGGABUNGKAN SUMBER BELAJAR LUAR DENGAN APLIKASI PADA SISTEM PEMBELAJARAN MELALUI SISTEM CLOUD COMPUTING
Seperti halnya perguruan tinggi pada umumnya. Universitas Negeri Malang juga memiliki sistem aplikasi pembelajaran on-line. Platform yang digunakan adalah opensource LMS (Learning Management System) aplikasi MOODLE (Modular Object-Oriented Dynamic Learning Environment). Pada jurusan tekknologi pendidikan juga  memiliki aplikasi pembelajaran on-line. Platform yang digunakan adalah opensource LMS aplikasi CLAROLINE (Class Room on Line). Secara umum dapat dikategorikan dalam “keluarga” aplikasi yang sama, hanya beda “spesies”.


Gambar 5. Aplikasi Moodle Universitas Negeri Malang

Moodle dan Claroline bukan merupakan standar sistem pembelajaran di Indonesi. Masih banyak ragam dan macamnya LMS. LMS tentu lebih baik jika disandingkan dengan penyedia sumber belajar dan ditautkan dengan aplikasi-aplikasi lainnya. Sebagai contoh adalah aplikasi sistem pembelajaran digabungkan dengan file penyimpanan data pribadi dosen pada google drive.


Gambar 6. Contoh tampilan sistem aplikasi pembelajaran on-line TEP UM

KESIMPULAN
Visi belajar dan pembelajaran telah mengalami reformasi yang menekankan: 1) keterlibatan aktif pebelajar dalam proses pembelajaran; 2) memperhatikan kemampuan intelektual dan emosional pada berbagai tingkatan; 3)penyusunan media pembelajaran dimaksudkan untuk ikut memecahkan permasalahan pada dunia yang berubah dengan cepat dan fleksibilitas antara pebelajar yang akan memasuki dunia kerja yang akan menuntut pembelajaran seumur hidup. Kearsley, (1994: p159) pengungkapkan Pendidik, pengajar dan administrator harus benar siap untuk meningkatkan dan mengelola teknologi.

Salah satu bidang yang sangat penting bagi pendidik dan pengajar adalah kemampuan untuk secara kritis mengevaluasi teknologi media pembelajarn yang ada dan yang baru. Kita perlu pendidik dan pengajar yang dapat berpikir tentang kemungkinan efek samping, konsekuensi dan dampak dari teknologi media pembelajaran yang telah dikembangkan. Pendidik dan pengajar perlu mengembangkan media pembelajaran yang hanya bisa menjadi mediator. Namun bisa menghubungkan sumber belajar yang menjadi asset pendidikan dan pembelajaran di dunia.

DAFTAR PUSTAKA

Criticos, C. (1994). Media Selection. In T. Husen & T. N. Poselthwaite (eds), The International Encyclopaedia of Education. Second Edition. London: Pergamon Press. pp3756-3760.

Dede, C. (1996). Emerging technologies and distributed learning. The American Journal of Distance Education, 10(2), 4-36.

Dick, W. and Carey, L. (1996). The Systematic Design of Instruction. (4th edition). New York: Harper Collins.

Ely, D. P. and Minor, B. B. (Eds) (1993). Educational Media and Technology Yearbook. Volume 19. Colorado: Libraries Unlimited.

Galbreath, J. (1994). Multimedia in education: Because it’s there? TechTrends, 39(6), 17-20.

Gray, R. A. (1994). The school media specialist: Teaching in the information age. TechTrends, 39(6), 45-46.

Hong.Kian-Sam dan Songan. Peter. 2011 ICT in the changing landscape of higher education in Southeast Asia. Australasian Journal of Educational Technology 2011, 27(Special issue,8), 1276-1290.

Karat, J. and Bennett, J. (1991). Working within the Design Process: Supporting Effective and Efficient Design. In Carroll, J. (Ed.), Designing Interaction:

Kearsley, G. and Lynch, W. (1994). Educational Technology Leadership Perspectives. New Jersey: Educational Technology Publications.

Kistan, G. (1995). Expanding frontiers through collaboration and networking. Paper presented at the International AECT Convention. Anaheim. USA, 8-12 Feb, 1995.

Kwok-Wing Lai. 2011. Digital technology and the culture of teaching and learning in higher education. Australasian Journal of Educational Technology, 27(Special issue, 8), 1263-1275

Litchfield, A. (1994). Producing Multimedia: a user-centred approach. Proceedings of the Multimedia and Design Conference, University of Sydney, 26-28 September 1994, pp 3-10.

Mauldin, M. (1995). Developing Multimedia: A Method to the Madness. Technological Horizons in Education, 22(7), 88-90.

Nelson, T. (1990). The right way to think about software design. In Laurel, B. (ed.), The Art of Human-Computer Interface Design. Addison-Wesley, New York, pp235-243.

Norman, D. & Spohrer, J. (1996). Learner-centred Education. Communications of the ACM, 39(4), 24-27.

Toffler, A. (1990). Powershift. Bantam, New York.

Psychology at the Human-Computer Interface. Cambridge University Press, Cambridge, pp269-285.

Romiszowski, A. J. (1988). The selection and use of instructional media. Second Edition. New York: Kogan Page.

Sclater. Niall. 2010. Cloud Computing in Education. Unesco Institute for Information Technologies in Education. Moscow. Russian Federation.

Seels, B. B. and Richey, R. C. (1994). Instructional Technology: The definition and domains of the field. Washington, DC: Association for Educational Communications and Technology.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *