Web-Supported System for Collaboration Learning

Sebagai Pengembang Kapabilitas Pebelajar 
Henry Praherdhiono
Universitas Negeri Malang
henry.praherdhiono.fip@um.ac.id

ABSTRAK Pengembangan kapabilitas pebelajar merupakan cara dalam mengembangkan performa lulusan perguruan tinggi. Perkembangan penelitian pada Jurusan Teknologi Pendidikan (TEP) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Malang (UM) telah mengarah dalam pembelajaran kolaboratif pada Sistem Aplikasi Pembelajaran Online (SAPROL) sejak tahun 2007. Tujuan penelitian adalah mengembangkan Web-Supported System for Collaboration Learning (WSSCL) dalam SAPROL TEP FIP UM untuk mendukung kurikulum life based learning (pembelajaran) TEP FIP UM. Konten pengembangan adalah produk fitur kolaborasi online dan kajian empiris pada WSSCL dalam rangka memastikan kesiapan pembelajar dengan WSSCL dalam kurikulum yang dirancang oleh TEP FIP UM. Kajian empiris difokuskan pada deskripsi informasi pelaksanaan WSSCL.
Kata Kunci: Kapabilitas, Web-Supported System For Collaboration Learning (WSSCL), life based learning

PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi mempengaruhi perkembangan pembelajaran (Abulibdeh & Hassan, 2011). Jurusan Teknologi Pendidikan (TEP) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Malang (UM) telah bergeser pada pembelajaran kolaboratif (Annamalai, Tan, & Abdullah, 2016). Sistem pembelajaran di TEP FIP UM berbasis web yang dikembangkan untuk melayani karakteristik individu maupun kolaborasi. Perkembangan berikutnya, Peneliti jurusan TEP FIP UM bergeser pada bagaimana mengembangkan pembelajaran berbasis web untuk kebutuhan pembelajaran kolaborasi. Pembelajaran secara kolaboratif dan pembelajaran kolaboratif perlu didukung oleh perangkat komputer (Deutsch, Coleman, & Marcus, 2011; Johnson & Johnson, 1999). Model transmisi pesan langsung dari pembelajaran dengan menciptakan peluang untuk mengkonstruksi pengetahuan dan terlibat dalam pembelajaran secara bersama (L. Kim, 1998). Pembelajaran kolaboratif, yang didukung oleh perangkat komputer, memiliki fokus studi tentang bagaimana orang belajar bersama dengan dukungan komputer pribadi yang dimiliki pebelajar, dan dukungan tersebut merupakan intersubjektif arti keputusan yang membuat bidang kajian keilmuan yang unik pada masing-masing individu (Stahl, Koschmann, & Suthers, 2006).

Pedagogi tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi (Farah, Ireson, & Richards, 2016). Hal ini terlihat dalam perkembangan kurikulum Universitas Negeri Malang mengalami perubahan mendasar. Perubahan yang terjadi adalah era kompetensi menuju era pengembangan kapabilitas pebelajar. TEP FIP UM juga mengalami perubahan penguatan lulusan. Landasan pengembangan adalah kebutuhan kekinian dalam konteks kehidupan. Selain profesional juga harus memiliki kapabilitas di era perkembangan keilmuan dan pengetahuan (He & Yang, 2016; Yeung, 1999). Lingkungan belajar dalam konteks kehidupan telah berkembang pada penggabungan lingkungan kerja dengan lingkungan belajar dalam sebuah sistem Pendidikan (Luppicini, 2005). Model pembelajaran juga merupakan respon terhadap konteks perubahan penggunaan teknologi pada lingkungan belajar. Beberapa pengembangan model yang telah mengidentifikasi kebutuhan untuk: a) pendekatan peningkatan kapasitas daripada kepatuhan pendekatan dalam lingkungan belajar (Yeung, 1999), b) memenuhi sifat perubahan dan kebutuhan dunia kerja (Coffield, 2000) , c) pendekatan pedagogis baru untuk belajar dan mengajar dan inovasi (Higgins, 2016), d) strategi pembelajaran yang menggunakan teknologi akan memecah banyak hambatan pada pebelajar (Farah et al., 2016), dan e) meningkatkan integrasi antara bekerja dengan belajar (Birt & Cowling, 2016).

Pengembangan Web-Supported System For Colaboration Learning (WSSCL) merupakan kebutuhan dasar pada sistem pembelajaran. Landasan keilmuan pengembangan WSSCL pada pembelajaran adalah kapabilitas mahasiswa untuk mampu mengembangkan makna dan praktik (Koschmann, 2002). WSSCL memerlukan sistem pembuatan makna-dalam konteks kegiatan bersama, dan cara-cara di mana praktik-praktik ini dimediasi melalui media yang dirancang dengan sistem kolaborasi (Dascalu et al., 2015). Ungkapan praktik pembuatan makna-dalam konteks kegiatan bersama berkaitan erat dengan konsep pengetahuan konstruktivisme sosial (Mayer, Moreno, Boire, & Vagge, 1999). Sosial-budaya memiliki perspektif dari pembelajaran kolaboratif yang didukung oleh komputer merupakan suatu proses sosial yang riil di mana individu mengambil tanggung jawab untuk membangun pemahaman dan pengetahuan mereka sendiri melalui interaksi sosial (Veletsianos & Navarrete, 2012). Dari perspektif sosial budaya pembelajaran kolaboratif yang didukung oleh komputer, mampu memberi otonomi yang tinggi untuk menentukan tujuan kelompok, proses kelompok memantau, dan produk kelompok (Kuo, Walker, Schroder, & Belland, 2014).

WSSCL dalam pembelajaran merupakan pengembangan unggulan sistem pembelajaran on-line yang telah dikembangkan TEP FIP UM. Mengingat sifat dari agen pebelajar yang tinggi dan otonomi yang dapat dilakukan pada WSSCL, maka dapat menjadi pengembangan yang strategis dalam mengembangkan pengalaman belajar yang bermakna (Hadjerrouit, 2010). Tidak semua mahasiswa dapat memanfaatkan potensi dalam lingkungan belajar online (Phielix, Prins, & Kirschner, 2010). Kondisi belajar pada jurusan TEP FIP UM termasuk menjadi masalah dalam peningkatan disonansi kognitif, waktu yang lebih lama untuk mencapai konsensus bersama, dan tingkat partisipasi rendah. Mahasiswa yang tidak siap menggunakan SAPROL karena cenderung untuk diri sendiri. Permasalahan kolaborasi secara signifikan menghambat hasil belajar (Shumar & Renninger, 2002). Hal ini terkait dengan frustrasi mahasiswa dalam lingkungan pembelajaran kolaboratif secara online (Capdeferro & Romero, 2012). Masalah yang nampak dalam di permukaan adalah mahasiswa tidak memiliki komitmen kolaborasi dikarenakan sikap ketidaksenangan dan persaingan. Masalah lain adalah ketegangan pembagian kerja, kesulitan komunikasi dan masalah negosiasi.

Penelitian kesiapan pebelajar dalam penggunaan kolaborasi berbasis web telah banyak dilakukan di berbagai bidang, seperti kesiapan pebelajar di bidang pendidikan (Annamalai et al., 2016), kesiapan psikologis untuk mengubah kebiasaan hidup dalam terapi medis (Carey, Purnine, Maisto, & Carey, 1999), kesiapan aktivitas fisik dalam latihan fisik (Marcus, Rakowski, & Rossi, 1992), dan kesiapan masyarakat dalam sosial budaya (Beebe, 2001).

Kesiapan pebelajar menggunakan web untuk kolaborasi secara teori masih menimbulkan beberapa perbedaan pendapat. Konsep ” kesiapan ” dalam berbagai studi memiliki makna umum kemampuan sampai batas tertentu, yang merupakan tingkat kesiapan psikologis atau fisik untuk beberapa tindakan, baik untuk mengubah perilaku pribadi atau untuk meningkatkan kualifikasi pribadi untuk memenuhi beberapa kriteria yang telah ditetapkan (Liaw, Chen, & Huang, 2008). Studi kesiapan mengenai masalah kolaborasi juga telah dilakukan di bidang komunikasi sosial (Nardi, 2005) dan pengembangan kolaborasi laboratorium (Olson, Teasley, Bietz, & Cogburn, 2002). Terdapat peneliti yang mengusulkan beberapa kriteria untuk mengevaluasi para negara dari kesiapan komunikatif, yang meliputi tiga dimensi dari koneksi, yaitu afinitas, komitmen, dan perhatian. Penilaian tiga dimensi ini menyediakan seperangkat pedoman untuk mempromosikan kesiapan komunikasi antar kolaborator (Nardi, 2005). Demikian pula, sebagian yang lain menunjukkan bahwa ada beberapa faktor penentu keberhasilan pembangunan kolaborasi, termasuk kesiapan kolaborasi, kesiapan infrastruktur kolaboratif, dan kesiapan teknologi kolaboratif (Olson et al., 2002). Mereka telah lanjut mengidentifikasi beberapa komponen kesiapan kolaborasi, yang motivasi untuk berkolaborasi, prinsip-prinsip bersama kolaborasi, dan pengalaman dengan spesifik elemen kolaborasi. Kriteria ini digunakan untuk mengevaluasi kondisi kesiapan web kolaborasi.

Faktor yang berhubungan dengan kesiapan pebelajar Universitas Negeri Malang telah dipelajari dalam konteks pembelajaran online. Kesiapan pebelajar untuk terlibat dalam kolaborasi online dapat diidentifikasi dengan kemampuan untuk terlibat dalam dialog secara online, literasi teknologi yang baik dan keterampilan pembelajaran kooperatif (Johnson & Johnson, 1999; Kemery, 1999; Toh, So, Seow, Chen, & Looi, 2013). Selain itu, Vonderwell (2004) berpendapat bahwa mempromosikan kesiapan mahasiswa adalah penting untuk sukses pengalaman belajar online. Mereka mengidentifikasi ‘regulasi diri, motivasi, dan kesadaran perubahan peran dalam konteks pembelajaran online sebagai indikator dari kesiapan untuk belajar online.

Beberapa penelitian menyelidiki kesiapan pebelajar secara online ‘dengan mengidentifikasi struktur internal dari instrumen yang diusulkan. Validasi diperlukan untuk melihat kesiapan untuk belajar kuesioner online (Smith*, 2005; Smith, Murphy, & Mahoney, 2003).

Pengembangan web kolaborasi pada jurusan TEP telah menggunakan pendekatan pengembangan skala yang luas. Skala pengembangan adalah pengembangan 1) keterampilan menggunakan komputer (Afreen, 2014), 2) kemampuan belajar mandiri (Broadbent & Poon, 2015), 3) Mengurangi ketergantungan belajar (Abulibdeh & Hassan, 2011), 4) penguatan belajar online (Veletsianos & Navarrete, 2012) dan 4) keterampilan akademik (Tondeur, Devolder, & van Braak, 2016). Pendekatan pengembangan selanjutnya digunakan sebagai instrumen untuk melihat efek kesiapan mahasiswa dalam belajar secara online pada pola partisipasi mereka. Secara khusus dilihat dalam keaktifan diskusi online dengan pola asynchronous (H. K. Kim & Bateman, 2007). Instrumen dalam mengukur kesiapan mahasiswa TEP dalam konteks pembelajaran online untuk menilai secara online kesiapan pebelajar.

Web-Supported System For Collaboration Learning (WSSCL) dalam SAPROL TEP FIP UM perlu dideskripsikan bagaimana pembelajaran berbasis on-line mampu mendukung pembelajaran secara makro. Bagian utama yang perlu dideskripsikan adalah 1) kajian konten pengembangan, 2) kajian uji kelayakan dan 3) kajian empiris pada WSSCL. Sehingga dapat memastikan kapabilitas mahasiswa TEP FIP UM dalam mengunakan dan mengelola WSSCL di pembelajaran online yang telah dirancang oleh UM. Kajian terfokus pada dasar deskriptif informasi pelaksanaan WSSCL.

METODE
Penelitian dilakukan dengan mendiskripsikan WSSCL. Secara keseluruhan model deskripsi yang memiliki karakteristik yang dominan pada pengembangan berbasis web.Metode dalam mengkaji web-supported system for collaboration learning memiliki fase-fase pelaksanaan antara lain : 1). Analisa pebelajar; 2). Mengkaji Rancangan Evaluasi yang dipersiapakan dalam WSSCL 3) Mengkaji Fase Serentak yang meliputi desain, pengembangan sistem, ujicoba dan Implementasi dan evaluasi Formatif.; 4). Mengkaji implementasi pembelajaran menggunakan WSSCL;

HASIL DAN PEMBAHASAN


Gambar 1. Pengumpulan hasil belajar mahasiswa

Kegiatan WSSCL memiliki pengaruh terhadap kapabilitas yang berbentuk kapasitas dan kepemilikan etos kerja tinggi. Mahasiswa secara umum berhasil mengumpulkan hasil belajar sesuai jadwal yang ditentukan. Mahasiswa yang mengikuti matakuliah secara individu mampu menunjukkan kinerja optimal dengan mengumpulkan sesuai jadwal yang ditentukan. Perbedaan waktu pengumpulan hasil belajar mahasiswa tidak lagi dalam rentang minggu. Perbedaan pengumpulan memiliki rentang hari. Mahasiswa telah menyadari pentingnya menunjukkan hasil belajar dalam proses pembelajaran. Penggunaan WSSCL memberikan kapabilitas untuk meregulasi dirinya sendiri (Broadbent & Poon, 2015).

Mahasiswa memiliki kemampuan mengembangkan konten pemebalajaran sebagai tugas secara orisinil. Pada data video yang diunggah mahasiswa dalam sistem pembelajaran blended, mahasiswa meng-upload hasil belajar berupa proses pengembangan web pribadi. Mahasiswa secara runtut mampu memaparkan, konten web hingga keunggulan web site melalui video. Hal ini menunjukkan mahasiswa memiliki kesiapan berkolaborasi melalui aktifitas berbagi video secara akademik (Gernsbacher, 2015; Guo, Kim, & Rubin, 2014).


Gambar 2. Kemampuan berbagi konten pembelajaran

Kondisi mahasiswa telah memiliki metafora konten yang tinggi. Mahasiswa mampu memperkenalkan conceptual distance antara pebelajar lain dengan materi objek atau subjek dan mendorong pemikiran-pemikiran orisinil. Contoh kegiatan adalah, dengan meminta mahasiswa berpikir web site sebagai sebuah sumber belajar buku pada umumnya, sehingga mahasiswa sebenarnya tengah menyediakan sebuah struktur metafora, di mana mahasiswa dapat berpikir tentang sesuatu dengan cara yang baru. Sebaliknya, dosen dapat meminta mahasiswa untuk berpikir tentang topik baru, konten web pembelajaran, dengan cara yang lama, yakni dengan meminta mereka membandingkan melalui Learning Manajemen System. Aktivitas metafora kemudian tergantung pada dan berasal dari pengetahuan mahasiswa, membantu mereka menghubungkan gagasan-gagasan dari materi yang familiar pada gagasan-gagasan dari materi yang baru, atau melihat materi yang familiar dari perspektif yang baru (Caione, Guido, Martella, Paiano, & Pandurino, 2016). Strategi-strategi sinektik yang kemudian menggunakan aktivitas metaforis dirancang untuk menyediakan sebuah susunan yang darinya mahasiswa dapat membebaskan diri mereka dalam mengembangkan imajinasi dan wawasan dalam setiap aktivitas sehari-hari. Tiga jenis analogi digunakan sebagai basis latihan sinektik: analogi personal (personal analogy), analogi langsung (direct analogy), dan konflik padat (compressed conflict) (Joyce, 2015).


Gambar 3. Pemberian pengetahuan baru melalui pembelajaran on-line

Hakikat analogi personal yang telah tercapai dalam mahasiswa adalah pada keterlibatan secara empatik. Analogi personal mengharuskan lepasnya identitas diri sendiri (keakuan) menuju ruang atau objek lain (Publish) (Joyce, 2015). Antara dosen dengan mahasiswa atau mehasiswa dengan mahasiswa tidak lagi memiliki jarak. Menurunnya jarak secara konseptual tercipta oleh hilangnya diri atau identitas seseorang (mahasiswa) menjadi wujud kemampuan berbagi atau berkolaborasi aktif. Mahasiswa lebih kreatif dan inovatif membuat analogi tersebut. Empat tingkat keterlibatan dalam analogi personal pada pengembangan web site pribadi sesuai dengan tahapan

  1. Deskripsi Mahasiswa pertama terhadap fakta fakta. Mahasiswa tersebut menceritakan web site yang terkenal, tetapi tidak menghadirkan cara baru dalam memandang objek dan tidak menunjukkan keterlibatan empatik..
  2. Identifikasi Mahasiswa pertama terhadap emosi. Mahasiswa tersebut menceritakan emosi-emosi umum, tetapi tidak menghadirkan wawasan-wawasan baru yaitu Mahasiswa merasa mampu mengembangkan webs ite pribadi”.
  3. Identifikasi empatik terhadap makhluk hidup. Mahasiswa mengidentifikasi secara emosional dan kinestetik subjek analogi yaitu Mahasiswa memberikan ekspresi pada saat pengembangan video hasil belajar sehingga mengundang empati mahasiswa lainnya.
  4. Identifikasi empatik terhadap perangkat. Level ini mengharuskan komitmen penuh. Mahasiswa tersebut melihat dirinya sendiri sebagai objek dan mencoba mengeksplorasi masalah: Mahasiswa mampu merasakan terbantu dengan perangkat-perangkat pembelajaran disekitarnya baik berupa software dan hardware.

 

  1. KESIMPULAN

Web-Supported System for Collaboration Learning (WSSCL) dalam SAPROL TEP FIP UM merupakan pendukung life based learning khususnya dalam pengembangan kapabilitas mahasiswa dalam berkolaborasi. Konten pengembangan yang dikonstruksi dosen dan mahasiswa saling bersinergis. kelayakan dan bukti empiris pada WSSCL dapat mengukur dan memastikan kesiapan pebelajar (Smith et al., 2003). dengan WSSCL dalam kurikulum yang dirancang oleh UM. Kajian terfokus pada dasar deskriptif informasi pelaksanaan WSSC. Penyiapan sistem WSSCL untuk mewadahi tindakan kolaborasi seperti sikap mahasiswa terhadap kolaborasi, keterampilan berkolaborasi, berbagi pengalaman sebelumnya, dan jaringan sosial. Sebagai akibat wajar, Kesenjangan yang dirasakan terutama terletak pada rendahnya kesiapan pembelajaran dalam kegiatan kolaborasi melalui komputer (Kemery, 1999). Meskipun penelitian telah dilaksanakan, mungkin perlu melihat kembali pentingnya faktor kolaborasi dalam proses pembelajaran hingga hasil. Mengingat bahwa beberapa studi penelitian sampai saat ini hanya mampu mengevaluasi kesiapan atau menyarankan pendekatan sistematis untuk menilai keadaan mahasiswa. Konteks WSSCL, diperlukan mahasiswa dalam Kurikulum pembelajaran di berbagai universitas. oleh karena itu, Pengembangan WSSCL diperlukan untuk: 1) Pengembangan aplikasi literatur, 2) Pengembangan dan implementasi kongkrit teknologi yang mendukung pembelajaran. Penelitian ini membantu menjembatani kesenjangan dalam memahami nuansa kolaborasi dan memberikan dengan memberikan panduan praktis untuk mengukur kesiapan mahasiswa. Yang pada akhirnya meningkatkan proses dan hasil belajar mahasiswa

 

Daftar Pustaka

Abulibdeh, E. S., & Hassan, S. S. S. (2011). E-learning interactions, information technology self efficacy and student achievement at the University of Sharjah, UAE. Australasian Journal of Educational Technology, 27(6).

Afreen, R. (2014). B ring your own device (BYOD) in higher education: opportunities and challenges. International Journal of Emerging Trends & Technology in Computer Science, 3(1), 233–236.

Annamalai, N., Tan, K. E., & Abdullah, A. (2016). Teaching Presence in an Online Collaborative Learning Environment via Facebook. Pertanika Journal of Social Sciences & Humanities, 24(1).

Beebe, J. (2001). Rapid assessment process: An introduction. AltaMira Press.

Birt, J., & Cowling, M. A. (2016). Mixed reality in higher education: Pedagogy before technology.

Broadbent, J., & Poon, W. L. (2015). Self-regulated learning strategies & academic achievement in online higher education learning environments: A systematic review. The Internet and Higher Education, 27, 1–13.

Caione, A., Guido, A. L., Martella, A., Paiano, R., & Pandurino, A. (2016). Knowledge base support for dynamic information system management. Information Systems and E-Business Management, 14(3), 533–576.

Capdeferro, N., & Romero, M. (2012). Are online learners frustrated with collaborative learning experiences? The International Review of Research in Open and Distributed Learning, 13(2), 26–44.

Carey, K. B., Purnine, D. M., Maisto, S. A., & Carey, M. P. (1999). Assessing readiness to change substance abuse: A critical review of instruments. Clinical Psychology: Science and Practice, 6(3), 245–266.

Coffield, F. (2000). The necessity of informal learning (Vol. 4). Policy press.

Dascalu, M.-I., Bodea, C.-N., Moldoveanu, A., Mohora, A., Lytras, M., & de Pablos, P. O. (2015). A recommender agent based on learning styles for better virtual collaborative learning experiences. Computers in Human Behavior, 45, 243–253.

Deutsch, M., Coleman, P. T., & Marcus, E. C. (2011). The handbook of conflict resolution: Theory and practice. John Wiley & Sons.

Farah, M., Ireson, G., & Richards, R. (2016). A Content, Pedagogy and Technology [CPT] Approach to TPACK. Imperial Journal of Interdisciplinary Research, 2(12).

Gernsbacher, M. A. (2015). Video captions benefit everyone. Policy Insights from the Behavioral and Brain Sciences, 2(1), 195–202.

Guo, P. J., Kim, J., & Rubin, R. (2014). How video production affects student engagement: An empirical study of mooc videos. In Proceedings of the first ACM conference on Learning@ scale conference (pp. 41–50). ACM.

Hadjerrouit, S. (2010). A conceptual framework for using and evaluating web-based learning resources in school education.

He, W., & Yang, L. (2016). Using wikis in team collaboration: A media capability perspective. Information & Management, 53(7), 846–856.

Higgins, S. (2016). New (and Old) Technologies for Learning: Innovation and Educational Growth.

Johnson, D. W., & Johnson, R. T. (1999). Making cooperative learning work. Theory into Practice, 38(2), 67–73.

Joyce, B. R. (2015). Models of teaching (Ninth edition). Boston: Pearson.

Kemery, E. R. (1999). Developing on-line collaboration. Web-Based Learning and Teaching Technologies: Opportunities and Challenges, 227–245.

Kim, H. K., & Bateman, B. (2007). Student characteristics and participation patterns in online discussion. In Society for Information Technology & Teacher Education International Conference (Vol. 2007, pp. 2381–2387).

Kim, L. (1998). Crisis construction and organizational learning: Capability building in catching-up at Hyundai Motor. Organization Science, 9(4), 506–521.

Koschmann, T. (2002). Dewey’s contribution to the foundations of CSCL research. In Proceedings of the Conference on Computer Support for Collaborative Learning: Foundations for a CSCL Community (pp. 17–22). International Society of the Learning Sciences.

Kuo, Y.-C., Walker, A. E., Schroder, K. E., & Belland, B. R. (2014). Interaction, Internet self-efficacy, and self-regulated learning as predictors of student satisfaction in online education courses. The Internet and Higher Education, 20, 35–50.

Liaw, S.-S., Chen, G.-D., & Huang, H.-M. (2008). Users’ attitudes toward Web-based collaborative learning systems for knowledge management. Computers & Education, 50(3), 950–961.

Luppicini, R. (2005). A systems definition of educational technology in society. Educational Technology & Society, 8(3), 103–109.

Marcus, B. H., Rakowski, W., & Rossi, J. S. (1992). Assessing motivational readiness and decision making for exercise. Health Psychology, 11(4), 257.

Mayer, R. E., Moreno, R., Boire, M., & Vagge, S. (1999). Maximizing constructivist learning from multimedia communications by minimizing cognitive load. Journal of Educational Psychology, 91(4), 638.

Nardi, B. A. (2005). Beyond bandwidth: Dimensions of connection in interpersonal communication. Computer Supported Cooperative Work (CSCW), 14(2), 91–130.

Olson, G. M., Teasley, S., Bietz, M. J., & Cogburn, D. L. (2002). Collaboratories to support distributed science: the example of international HIV/AIDS research. In Proceedings of the 2002 annual research conference of the South African institute of computer scientists and information technologists on enablement through technology (pp. 44–51). South African Institute for Computer Scientists and Information Technologists.

Phielix, C., Prins, F. J., & Kirschner, P. A. (2010). Awareness of group performance in a CSCL-environment: Effects of peer feedback and reflection. Computers in Human Behavior, 26(2), 151–161.

Shumar, W., & Renninger, K. A. (2002). Introduction: On conceptualizing community. Building Virtual Communities, 1–19.

Smith*, P. J. (2005). Learning preferences and readiness for online learning. Educational Psychology, 25(1), 3–12.

Smith, P. J., Murphy, K. L., & Mahoney, S. E. (2003). Towards identifying factors underlying readiness for online learning: An exploratory study. Distance Education, 24(1), 57–67.

Toh, Y., So, H.-J., Seow, P., Chen, W., & Looi, C.-K. (2013). Seamless learning in the mobile age: A theoretical and methodological discussion on using cooperative inquiry to study digital kids on-the-move. Learning, Media and Technology, 38(3), 301–318.

Tondeur, J., Devolder, A., & van Braak, J. (2016). Examining Scaffolding Support in a Computer-Based Learning Environment for Elementary School Learners. International Journal of Academic Research in Education, 2(1).

Veletsianos, G., & Navarrete, C. (2012). Online social networks as formal learning environments: Learner experiences and activities. The International Review of Research in Open and Distributed Learning, 13(1), 144–166.

Yeung, A. K. (1999). Organizational learning capability. Oxford University Press on Demand.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *